Senin, 30 Oktober 2023

LKPD 3 KETAHANAN PANGAN (otensi dan persebaran sumber daya untuk penyediaan bahan industri)

 



Kompotensi Dasar

KD 3: 3.4 Menganalisis ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri, serta potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia.

KD 4: 4.4 Membuat peta persebaran ketahanan pangan nasional, bahan industri, serta energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Indikator

 Menganalisis Potensi dan persebaran sumber daya untuk penyediaan bahan industri. 

Materi 

POTENSI GEOGRAFIS INDONESIA UNTUK PENYEDIAAN BAHAN INDUSTRI

A.      BAHAN BAKU INDUSTRI YANG BERASAL DARI PERTANIAN PERTANIAN

1.       Kedelai

 Kedelai banyak dibudidayakan pada lahan yang berupa ladang, tegalan, dan sawah tadah hujan. Penghasil kedelai di Indonesia adalah Jateng, Jatim, NTT, dan Lampung. Dari segi gizi, ternyata kedelai merupakan sumber gizi yang baik sekali bagi manusia. Kedelai utuh mengandung 35- 38% protein, yang tertinggi dari segala nilai kacang-kacangan tradisional lainnya. Manfaat lain kedelai adalah sebagai berikut:

1) Sebagai bahan baku pembuatan kecap, tempe, tahu, dan susu kedelai.

2) Sebagai komoditi ekspor nonmigas Salah satu manfaat kedelai dalam bidang industri yaitu sebagai bahan bagu pembuatan kecap.



1.       Kacang tanah

 Kacang tanah banyak dibudidayakan di daerah tegalan dan sawah tadah hujan. Daerah penghasil kacang tanah di Indonesia adalah Jawa dan Sulawesi Selatan. Kegunaan kacang tanah adalah sebagai berikut:

 1) Sebagai bahan baku industri minyak goring

2) Sebagai bahan baku industri makanan

B , BAHAN BAKU INDUSTRI YANG BERASAL DARI PERKEBUNAN

1.      1.  TEBU

Tebu di Indonesia banyak ditanam di daerah Pasuruan, Besuki, Banyumas, Yogyakarta, Kedu, Karanganyar, Kediri, Sulawesi Selatan. Tebu digunakan sebagai bahan baku gula. Ampas berupa batang tebu yang kering digunakan sebagai bahan pembuatan kertas.

Cara pengolahan tebu adalah setelah dipanen, tebu dibawa ke pabrik dan langsung dipres sampai keluar airnya. Air tebu dimasak sehingga sebagian airnya menguap dan terbentuklah endapan gula yang kental. Apabila dipanaskan terus, gula tersebut akan membentuk bongkahan dan kering. Kemudian dimasukkan ke dalam mesin pengkristal sehingga gula tersebut akan pecah dengan sendirinya menjadi Kristal-kristal kecil seperti kubus. Gula tersebut berwarna putih kekuningan. Untuk menjadikan gula purih bersih dengan cara diasapi dengan asap belerang.



1.     2.   KARET

Daerah persebaran karet di Indonesia meliputi: Jatim, Jabar, Langkat, Deli Serdang, Kisaran, Lampung, dan Nangroe Aceh Darussalam. Pemanfaatan karet terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet.

2.     3.   KELAPA

 Kelapa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng, margarin, dan santan. Daerah persebaran tanaman kelapa di Indonesia adalah Minahasa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Nusa Tenggara.

3.    4.    KELAPA SAWIT 

Kelapa sawit digunakan sebagai bahan pembuatan minyak goreng. Daerah penghasil kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatra Utara, Aceh, Riau, Jambi, Lampung, Bengkulu, Sumatra Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Irian. 



1.       KOPI

Tanaman kopi berasal dari Arabia dan Etiopia. Jenis tanaman kopi mencakup Kopi Arabika, Kopi Liberika (dari Angola), dan Kopi Robusta (dari Etiopia). Kopi yang ditanam di Indonesia umumnya berasal dari Robusta yang tumbuh di daerah dengan ketinggian 0-1.000 m. Perkebunan kopi terdapat di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Palembang, Minahasa, dan Toraja. Saat ini, luas perkebunan kopi di Indonesia mencapai kurang lebih 1.042.141 hektare . Setiap tahun Indonesia mengekspor 370.000 ton kopi.


1.       TEH

 Tanaman teh ditanam pertama kali di Indonesia pada tahun 1828 di Bogor dan dibawa oleh Jacobson. Daerah persebaran teh di Indonesia meliputi Sukabumi, Garut, Wonosobo, Ambarawa, Bengkulu, Pematang Siantar, dan Sumatera Barat. Indonesia merencanakan 80% hasil teh dipasarkan ke luar negeri dan sisanya untuk keperluan dalam negeri. Daerah pemasaran teh ialah Singapura, Pakistan, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan 31 Jerman. Saat ini negara pengimpor teh Indonesia adalah Pakistan, yaitu sebesar 26,7 ribu metrik ton senilai US$ 29,9 juta.

2.       CENGKEH

 Cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh subur di Kepulauan Maluku. Pada mulanya, bangsa Baraf (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) datang ke Indonesia untuk memperoleh rempah rempah. Daerah persebaran cengkeh di Indonesia meliputi Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Sulut, Sulsel, Bali, Maluku. Pada saat ini cengkeh digunakan sebagai bahan makanan sekaligus bahan tambahan industri parfum.

3.       KAKAO

Biji Kakao adalah bahan utama pembuatan bubuk kakao (coklat), bubuk kakao adalah bahan dalam pembuatan kue, es krim, makanan ringan, susu, dan lain-lain. Dalam bahasa keseharian masyarakat kita menyebutnya coklat. Karakter rasa coklat adalah gurih, dengan aroma yang khas sehingga disukai banyak orang khususnya anak-anak dan remaja. Daerah penghasil cokelat di Indonesia terdapat di Jawa Tengah (Semarang, Pekalongan), Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua.

SELENGKAPNYA

Minggu, 29 Oktober 2023

LKPD 4 INTERAKSI DESA KOTA

 








A. Kompotensi dasar

3.1    Membuat peta pengelompokan penggunaan lahan di wilayah kabupaten/kota/provinsi berdasarkan data wilayah setempat

3.2    Menganalisis struktur keruangan desa dan kota, interaksi desa dan kota, serta kaitannya dengan usaha pemerataan pembangunan

 

B. Indikator

·  Menganalisis dampak perkembangan kota terhadap masyarakat desa dan kota.

 

C. Materi

D. DAMPAK PERKEMBANGAN KOTA TERHADAP MASYARAKAT DESA DAN KOTA

Kota selalu mempunyai hubungan erat dengan wilayah sekitarnya. Penduduk kota yang terdiri dari pedagang, pegawai pemerintah dan swasta, tukang-tukang, seniman, guru dan sebagainya, hidup dari hasil pertanian yang dihasilkan oleh para petani di pedesaan. Penduduk kota sangat tergantung secara ekonomis terhadap penduduk pedesaan. Demikian pula sebaliknya, penduduk desa mempunyai ketergantungan terhadap perkotaan terutama menyangkut sandang, pangan, dan barang jadi. Timbulnya pasar bisa menjadi ajang pertukaran kebutuhan antara penduduk desa dan kota.

 Interaksi antara dua atau lebih daerah yang berbeda akan berpengaruh pada masing-masing wilayah sehingga akan memicu terjadinya perubahan. Seberapa besar perubahan yang terjadi tergantung dari jarak, jumlah penduduk, dan berbagai factor pendukung lainnya seperti sarana transportasi, komunikasi, listrik, dan lain sebagainya.Pengembangan ekonomi daerah adalah suatu proses di mana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi dalam wilayah tersebut.

1.       Dampak Interaksi Desa-Kota

Interaksi terjadi karena adanya usaha seseorang atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak dapat diusahakan sendiri atau didapatkan dari tempat tinggalnya sendiri, sehingga memerlukan bantuan dari orang lain yang berada di tempat lain. Contohnya, seorang petani di daerah pedesaan menghasilkan beras, namun untuk mendapatkan alat pertanian yang dibutuhkannya ia harus menjual berasnya ke daerah lain dan membeli alat pertanian yang diproduksi oleh industri di daerah perkotaan. Dalam segala aspek kehidupan, penduduk dari suatu tempat harus berinteraksi dengan penduduk di daerah lain. Interaksi tersebut menyebabkan terjadinya hubungan ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan, dan keamanan. Interaksi antar wilayah akan menimbulkan pengaruh sebagai berikut:

a.       Interaksi desa dengan desa

Berdasarkan perkembangannya desa dikelompokkan menjadi desa swadaya, swakarya, dan swasembada. Apabila desa-desa yang saling berinteraksi memiliki potensi fisik (tanah, air, iklim, topografi, pertanian dan peternakan) yang baik dan didukung oleh potensi non fisik (sikap masyarakat dan pamong desa), maka desa akan cepat mengalami perkembangan sesuai tujuan yang telah dibuat.

b.      Interaksi kota dengan kota

Kota merupakan pusat pertumbuhan, sehingga interaksi antar kota akan memberikan pengaruh terhadap perkembang kota lainnya. Contohnya, kota-kota saling mendukung, saling berhubung, dan saling bekerjasama demi kemajuan bersama.

c.       Interaksi desa dengan kota

d.      Interaksi antara desa dan kota memiliki beberapa manfaat yaitu:

1) Hubungan sosial ekonomi penduduk desa dan kota meningkat.

 2) Pengetahuan penduduk desa meningkat, terutama dalam penggunaan teknologi di bidang pertanian, berita dan informasi melalui televisi.

3) Banyaknya urbanisasi

 4) Terjadinya hubungan yang saling menguntungkan atau saling ketergantungan dalam pemenuhan kebutuhan.

5) Pembangunan sarana dan prasarana transportasi sehingga memudahkan akses ke desa.

Interaksi antara desa dan kota juga menimbulkan dampak bagi kedua wilayah tersebut. Dampak tersebut adalah:

·      Dampak positif

 a. Bagi desa

1) Pengetahuan penduduk desa menjadi meningkat karena banyak sekolah dibangun di desa

2) Angka buta huruf penduduk desa semakin berkurang dengan banyaknya dibangun sekolah

3) Perluasan jalur jalan desa kota dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor sehingga hasil panen dari desa mudah diangkut ke kota dan kelangkaan bahan pangan di kota dapat dihindari.

4) Produktivitas desa makin meningkat dengan hadirnya teknologi tepat guna.

5) Pelestarian lingkungan hidup pedesaan dapat dilakukan dengan hadirnya para ahli dari berbagai disiplin ilmu.

6) Peningkatan kegiatan wiraswasta yang menghasilkan produk berkualitas dapat dilakukan karena pemerintah turun tangan

7) Kesadaran memiliki keluarga kecil telah diterima oleh masyarakat desa 8) Koperasi dan organisasi sosial yang berkembang di perdesaan telah memberi manfaat dalam peningkatan kesejahteraan penduduk dan pembangunan desa.

b. Bagi kota

1) Tercukupinya kebutuhan bahan pangan bagi penduduk perkotaan yang sebagian besar berasal dari daerah perdesaan

 2) Jumlah tenaga kerja di perkotaan melimpah karena banyaknya penduduk dari desa yang pergi ke kota

3) Produk-produk yang dihasilkan di daerah perkotaan dapat dipasarkan sampai ke pelosok desa sehingga keuntungan yang diperoleh lebih besar.

·         Dampak negative

a. Bagi desa

1) Modernisasi kota telah melunturkan orientasi pertanian yang menjadi pokok kehidupan mereka

2) Penduduk desa dengan mudah meniru iklan dan tindak kejahatan dalam film yang ditanyangkan di televisi

3) Pengurangan tenaga produktif bidang pertanian di desa, karena banyak tenaga muda yang lebih tertarik bekerja di kota.

4) Perubahan tata guna lahan di perdesaan akibat perluasan wilayah kota dan banyak orang kota membeli lahan di wilayah perbatasan desa-kota.

 5) Tata cara dan kebiasaan yang menjadi budaya kota masuk ke pelosok desa dan cenderung mengubah budaya desa

6) Ketersediaan bahan pangan yang berkurang, peningkatan pengangguran, dan pencemaran lingkungan menjadi masalah penting akibat interaksi desa-kota.

b. Bagi kota

1) Semakin meningkatnya jumlah pengangguran dan penduduk miskin

2) Penduduk dengan pendapatan rendah kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya

3) Nilai lahan di perkotaan yang mahal, memaksa warga menggunakan lahan atau tempat yang tidak layak untuk pemukiman

4) Terjadi degradasi kualitas lingkungan

a) Degradasi kualitas lingkungan fisik  

ü Pencemaran air

ü Pencemaran udara

ü Pencemaran suara

 b) Degradasi kualitas lingkungan sosial  

ü  Kepadatan lalu lintas kendaraan yang banyak dimilikiü penduduk kota. dapat menimbulkan perasaan jengkel dan kesal pemakai jalan akibat kemacetan.

ü  Semakin berkembangnya sikap hidup materialistis danü individualistis.  

ü  Tumpukan sampah yang terdapat di banyak tempat, terutamaü dekat pemukiman, mengganggu kesehatan, dan keindahan lingkungan.  

ü  Rumah dan bangunan kota yang terlantar atau tidak terawatü mengganggu pemandangan di sekitarnya.

2.       Dampak Perkembangan Kota

 Kota adalah suatu pemukiman yang bangunan rumahnya serba rapat dan penduduknya bermatapencaharian non agraris. Kota miliki ciri prasarana meliputi bangunan pemerintahan, rumah sakit, sekolah, pasar, jalan beraspal, alun-alun, taman, dan pusat perbelanjaan. Suatu kota umumnya memiliki rumah-rumah yang mengelompok atau pemukiman terpusat. Struktur bangunan kota semakin ke tengah makin tinggi karena jumlah penduduk semakin banyak. Ekonomi kota berupa industri dan jasa yang tidak memerlukan tanah yang luas, sehingga bentuk kota kompak, bangunan berdekatan, dan kepadatan penduduk tinggi.

Perkembangan kota-kota di Indonesia pada saat ini telah memberikan banyak perubahan pada ruang-ruang perkotaan. Ruang-ruang perkotaan dituntut untuk bisa mewadahi berbagai aktivitas manusia yang terus berkembang dan semakin kompleks dari waktu ke waktu. Pembangunan di kota kota besar di Indonesia dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Banyak faktor atau unsur yang ada, membentuk dan berpengaruh terhadap keberadaan dan perkembangan suatu kota, sehingga dapat dikatakan bahwa kota merupakan suatu sistem. Umumnya kota selalu dipandang sebagai pusat kegiatan ekonomi, pusat kegiatan pendidikan, pusat pemerintahan dan sebagainya.

Menurut Bintarto modernisasi kota mempunyai pengaruh terhadap, jumlah penduduk kota, keanekaragaman struktur sosial dan ekonomi, kebijaksanaan penggunaan sumber-sumber keuangan, kelembagaan kota dan sebagainya. Modernisasi ternyata juga tidak selalu memberi manfaat terhadap kehidupan, tetapi dapat juga berpengaruh sebaliknya dan untuk itu tentunya diharapkan modernisasi dapat melenyapkan pencemaran lingkungan terutama dikota yang sudah terjadi penurunan kualitas lingkungan.

Dampak perkembangan kota bagi:

1. Kota

a. Dampak Postitif :

1) Fasilitas umum semakin beragam dan semakin baik.

2) Tingkat pendidikan merata.

3) Komunikasi dan informasi lebih cepat dan mudah. 4) Pembagian kerja berdasarkan kemampuan

5) Kegiatan ekonomi semakin beragam jenisnya. 6) Membantu kota di sekitarnya untuk ikut berkembang.

b. Dampak Negatif :

1) Jumlah penduduk meningkat

2) Peningkatan urbanisasi

3) Alih fungsi lahan.

4) Semakin sempitnya lahan terbuka hijau.

 5) Pemukiman kumuh meningkat karena banyaknya urbanisasi.

6) Memudarnya budaya dan munculnya sikap individualis

2. Desa

a. Dampak Positif

1) Komunikasi dan informasi semakin baik.

2) Tingkat upah di pedesaan meningkat (misalnya : upah buruh tani).

3) Tingkat pengangguran di daerah perdesaan berkurang.

4)Tingkat kepadatan penduduk berkurang

b. Dampak Negatif

1) Daerah pedesaan kehilangan tenaga kerja potensiil, terdidik, terampil dan produktif.

2) Penduduk produktif banyak yang melakukan urbanisasi.

3) Jumlah petani menurun.

4) Lahan pertanian semakin berkurang karena alih fungsi lahan.

5) Perkembangan desa berjalan lambat.

3. Konflik Lahan Desa Dan Kota

Berbagai kepentingan dalam rangka penggunaan lahan dapat memicu terjadinya konflik, perselisihan, atau sengketa. Konflik atas penggunaan lahan tersebut dapat terjadi antar individu, individu dengan kelompok, individu dengan pemerintah, antar kelompok, atau kelompok dengan pemerintah.

1)      Konflik di pedesaan

 Konflik yang muncul sehubungan dengan penggunaan lahan dapat dipicu antara lain oleh adanya alih fungsi lahan dan pengakuan hak atas lahan. Alih fungsi lahan, misalnya dari lahan pertanian dijadikan lahan industri, dapat menimbulkan permasalahan sosial terhadap lingkungan sekitar. Berdirinya industri dianggap dapat merusak kondisi lingkungan hidup, misalnya menimbulkan pencemaran.

2)      Konflik di Perkotaan

Permukiman penduduk dengan tingkat ekonomi yang rendah cenderung selalu terdesak oleh pembangunan kota, misalnya perluasan kawasan industri, pelebaran jalan, dan perluasan pusat-pusat pertokoan. Hal itu dapat menimbulkan masalah-masalah sosial, terutama masalah permukiman. Pemanfaatan lahan di perkotaan dan di perdesaan perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat konsolidasi lahan. Konsolidasi lahan merupakan konsep tentang pengaturan lahan yang mampu meminimalkan dampak negatif yang timbul akibat penggunaan lahan di perkotaan.

Konsolidasi lahan bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan dalam hubungannya dengan pemanfaatan, peningkatan produktivitas, dan konservasi bagi kelestarian lingkungan sehingga pengembangan wilayah lebih terkontrol. Manfaat adanya konsolidasi lahan antara lain sebagai berikut:

a) Pemilik lahan akan memperoleh kembali tanah berupa petak tanah yang bentuknya teratur dan dekat dengan prasarana lingkungan.

b) Konflik dalam pemanfaatan lahan dapat dihindari dengan tertibnya kualitas lingkungan.

c) Taraf kehidupan penduduk dapat ditingkatkan dengan mengatur permukiman.

d) Beban pusat wilayah dapat dikurangi dengan tersedianya prasarana sosial ekonomi yang memadai di sekitar permukiman.

e) Pengendalian pengembangan lahan lebih mudah dilakukan.

f) Perkembangan perumahan liar dapat dicegah.

Berbagai macam pemanfaatan lahan di desaa dan perkotaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terbentuknya pola keruangan. Selain itu, kondisi sosial ekonomi penduduk akan mempengaruhi perubahan dan perkembangan tata ruang sehingga membentuk zona-zona wilayah yang rawan konflik. Adapun usaha-usaha untuk mengatasinya adalah sebagai berikut:

a.    Penertiban hukum, berkaitan dengan pembangunan permukiman, akta tanah ganda, serta akta palsu.

b. Membuat master plan (rancangan garis besar) baik di wilayah desa, kecamatan, dan kabupaten/kota, agar penempatan sarana dan prasarana umum tepat sesuai aturan, dan fungsinya.

c. Dalam membuat master plan harus ditinjau dan dipikirkan secara tepat mengenai tata guna lahan, pola permukiman, dan pola keruangan, baik di wilayah desa maupun wilayah kota.


Rabu, 25 Oktober 2023

LKPD 2. KETAHANAN PANGAN, INDUSTRI DAN ENERGI BARUDAN TERBARUKAN


KD 3: 3.4 Menganalisis ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri, serta potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia.

KD 4: 4.4 Membuat peta persebaran ketahanan pangan nasional, bahan industri, serta energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Indikator:

3.4.3 Menganalisis potensi dan persebaran sumber daya pertanian ketahanan pangan nasional

3.4.4 Menganalisis potensi danpersebaran sumber daya perkebunan untuk ketahanan pangan nasional 3.4.5 Menganalisis potensi dan persebaran sumber perikanan untuk ketahanan pangan nasional

3.4.6 Menganalisis potensi dan persebaran sumber daya peternakan untuk ketahanan pangan nasional

 

Materi :

A.   Potensi danSebaran Pertanian Indonesia untuk Ketahanan Nasional

Sebagai salah satu negara yang termasuk dalam wilayah tropis, Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat baik, terutama untuk pertanian tropika. Salah satu produkpertanian tropika Indonesia yang berpotensi menjadi andalan adalah produk pertanian segar dalam bentuk buah-buahan dan sayuran. Produk lain yang turut menjadi andalan adalah rempah-rempah dan Bahan Bakar Nabati (BBN).

 

Indonesia merupakan Negara agraris yang memiliki potensi besar dan sumber daya alam yang melimpah untuk produk pertanian. Di sektor pertanian Indonesia memiliki beragam jenis tenaman, hal ini didukung kondisi iklim tropis yang berbeda, dibidang tanaman pangan di Indonesia memiliki tanaman unggul seperti padi, kedelai, kacang tanah, ubi kayu dan berbagai jenis farietas yang lain.

Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sektor pertanian menyerap 35.9% dari total angkatan kerja di Indonesia dan menyumbang 14.7% bagi GNP Indonesia (BPS, 2012). Fakta-fakta tersebut menguatkan pertanian sebagai megasektor yang sangat vital bagi perekonomian Indonesia.

Potensi pertanian Indonesia antara lain :

1.       Keanekaragaman Hayati dan Agroekosistem

Indonesia memilikipotensi sumberdaya alam, termasuk plasma nutfah, yang melimpah (mega biodiversity).Biodiversitydarat Indonesia merupakan terbesar nomor dua di dunia setelah Brasil, sedangkan bila termasukbiodiversitylaut maka Indonesia merupakan terbesar nomor satu didunia. Hal ini dapat dilihat dengan beragamnya jenis komoditas pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan yang sudah sejak lama diusahakan sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat.

2.       Lahan Pertanian

Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Data dari kajian akademis yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Kementerian Pertanian pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa total luas daratan Indonesia adalah sebesar 192 juta ha, terbagi atas 123 juta ha (64,6 persen) merupakan kawasan budidaya dan 67 juta ha sisanya (35,4 persen) merupakan kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya, yang berpotensi untuk areal pertanian seluas 101 juta ha, meliputi lahan basah seluas 25,6 juta ha, lahan kering tanaman semusim 25,3 juta ha dan lahan kering tanaman tahunan 50,9 juta ha. Sampai saat ini, dari areal yang berpotensi untuk pertanian tersebut, yang sudah dibudidayakan menjadi areal pertanian sebesar 47 juta ha, sehingga masih tersisa 54 juta ha yang berpotensi untuk perluasan areal pertanian. Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Data dari kajian akademis yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Kementerian Pertanian pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa total luas daratan Indonesia adalah sebesar 192 juta ha, terbagi atas 123 juta ha (64,6 persen) merupakan kawasan budidaya dan 67 juta ha sisanya (35,4 persen) merupakan kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya, yang berpotensi untuk areal pertanian seluas 101 juta ha, meliputi lahan basah seluas 25,6 juta ha, lahan kering tanaman semusim 25,3 juta ha dan lahan kering tanaman tahunan 50,9 juta ha. Sampai saat ini, dari areal yang berpotensi untuk pertanian tersebut, yang sudah dibudidayakan menjadi areal pertanian sebesar 47 juta ha, sehingga masih tersisa 54 juta ha yang berpotensi untuk perluasan areal pertanian. Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Data dari kajian akademis yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Kementerian Pertanian pada tahun 2006 memperlihatkan bahwa total luas daratan Indonesia adalah sebesar 192 juta ha, terbagi atas 123 juta ha (64,6 persen) merupakan kawasan budidaya dan 67 juta ha sisanya (35,4 persen) merupakan kawasan lindung. Dari total luas kawasan budidaya, yang berpotensi untuk areal pertanian seluas 101 juta ha, meliputi lahan basah seluas 25,6 juta ha, lahan kering tanaman semusim 25,3 juta ha dan lahan kering tanaman tahunan 50,9 juta ha. Sampai saat ini, dari areal yang berpotensi untuk pertanian tersebut, yang sudah dibudidayakan menjadi areal pertanian sebesar 47 juta ha, sehingga masih tersisa 54 juta ha yang berpotensi untuk perluasan areal pertanian.

Jumlah luasan dan sebaran hutan, sungai, rawa dan danau serta curah hujan yang cukup tinggi dan merata sepanjang tahun sesungguhnya merupakan potensi alamiah untuk memenuhi kebutuhan air pertanian apabila dikelola dengan baik. Waduk, bendungan, embung dan air tanah serta air permukaan lainnya sangat potensial untuk mendukung pengembangan usaha pertanian.

Lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Lahan pertanian memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat Indonesia sebagai negara agraris. Lahan pertanian menurut BPS terdiri dari lahan sawah dan lahan bukan sawah. Lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Lahan pertanian memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat Indonesia sebagai negara agraris. Lahan pertanian menurut BPS terdiri dari lahan sawah dan lahan bukan sawah. Lahan pertanian pangan berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Lahan pertanian memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat Indonesia sebagai negara agraris. Lahan pertanian menurut BPS terdiri dari lahan sawah dan lahan bukan sawah.

 a. Lahan Sawah, adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang, saluran air, yang biasanya ditanami padi sawah. Lahan sawah terdiri dari:

1) Sawah irigasi, yakni sawah yang airnya disuplay dari irigasi

2) Lahan sawah tadah hujan, yakni sawah yang bergantung pada air hujan

3) Sawah pasang surut, adalah sawah yang pengairannya bergantung pada sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut

4) Sawah lebak, pengairannya berasal dari reklamasi rawa lebak (bukan pasang surut) 5) Polder

5) Polder dan sawah lainnya, yakni lahan sawah yang terdapat di delta sungai yang pengairannya dipengaruhi oleh air sungai tersebut. 



Senin, 23 Oktober 2023

LKPD 1 Ketahanan Pangan, Industri dan energi terbarukan

 



KD 3: 3.4 Menganalisis ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri, serta potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia.

KD 4: 4.4 Membuat peta persebaran ketahanan pangan nasional, bahan industri, serta energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Indikator Pencapaian Kompetensi

3.4.1. Menjelaskan pengertian ketahanan pangan

 3.4.2. Menganalisis komponen ketahanan pangan

3.4.3. Menganalisis faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan

KETAHANAN PANGAN

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan memiliki peran yang penting dalam pembangunan kualitas Sumber Daya Manusia. Oleh karena itu, ketersediaan pangan menjadi hal yang cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar manusia tersebut. Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2012 tentang Ketahanan Pangan dicantumkan beberapa definisi terkait dengan pangan yaitu;

1.  Pangan Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

2. Ketahanan Pangan Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

3. Keamanan pangan Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

4. Produksi Pangan Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentuk pangan.

5. Pangan Pokok Pangan pokok adalah pangan yang diperuntukkan sebagai makanan utama sehari-hari sesuai dengan potensi sumber daya dan kearifan lokal.

6. Penganekaragaman Pangan Penganekaragaman pangan adalah upaya peningkatan ketersediaan dan konsumsi Pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pada potensi sumber daya lokal.

7. Pangan Segar Pangan segar adalah pangan yang belum mengalami pengolahan yang dapat dikonsumsi langsung dan/atau yang dapat menjadi bahan baku pengolahan pangan.

8. Sanitasi Pangan Sanitasi pangan adalah upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi pangan yang sehat dan higienis yang bebas dari bahaya cemaran biologis, kimia, dan benda lain..

 

 

Faktor Ketahanan Pangan ?

Ketahanan pangan dalam kaitannya dengan ketahanan Negara menjadi sebuah tolak ukur utama dalam menentukan kekuatan bangsa tersebut untuk bisa menangkal ancaman dari luar dan dari dalam, selain menjadi tolak ukur bagi kemajuan Negara tersebut. Dalam upaya menjaga ketahanan pangan dibutuhkan beberapa faktor penting diantaranya adalah

1. Lahan Lahan merupakan faktor penting dalam penyediaan sumber pangan, terutama yang terkait sumber pangan hasil budi daya pertanian dan perkebunan. Semakin luas lahan potensial yang digunakan untuk mengusahakan tanaman pangan, semakin baik ketahanan pangan disuatu negara. Perluasan lahan untuk tanaman pangan perlu ditingkatkan, mengingat dari tahun ke tahun jumlah penduduk semakin bertambah dan secara otomatis berpengaruh pada kenaikan kebutuhan pangan. Disisi lain muncul kekhawatiran akan menurunya jumlah hasil tanaman pangan akibat penyusutan lahan. Data statistik menyebutkan bahwa dalam periode 15 tahun (1986-2000) perkembangan lahan pertanian berkembang sangat lambat bahkan cenderung menyusut seiring kebutuhan lahan untuk kepentingan perumahan dan industri.

2. Iklim dan cuaca Iklim dan cuaca secara langsung ataupun tidak turut memengaruhi hasil sumber daya pangan. Coba perhatikan bagaimana sebagian besar nelayan di Indonesia masih bergantung pada kondisi cuaca tidak memungkinkan karena angin bertiup sangat kencang terlebih terjadi badai, nelayan mengurung niat untuk melaut. Contoh lain, dimana petani masih bergantung pada turunya hujan untuk mengairi sawah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan hasil sumber daya pangan. Fenomena iklim global seperti el nino dan la nina juga turut memengaruhi unsur cuaca di beberapa wilayah di Indonesia. El nino menyebabkan musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak pada timbulnya kekeringan. La nina menyebabkan curah hujan bertambah dan berdampak pada terjadinya banjir. Kedua fenomena tersebut dapat memengaruhi penyediaan sumber daya pangan yang nantinya juga dapat terkait pada ketahanan pangan.

3. Teknologi Teknologi dapat membantu mempermudah kegiatan manusia menjadi lebih efisien dan efektif. Dalam kaitanya dengan ketahanan pangan, teknologi dapat berperan dalam proses penyediaan serta pendistribusian hasil sumber daya pangan. Peran teknologi dalam penyediaan bahan pangan misalnya dalam penggunaan teknologi sebagai alat bantu. Dalam bidang pertanian, penggunaan mesin traktor untuk mengolah lahan pertanian dan mesin giling dapat membantu proses hasil pertanian menjadi lebih cepat. Penggunaan GPS untuk menentukan lokasi penangkapan ikan dan peralatan canggih pada kapal penangkap ikan yang dapat menjaring ikan dalam jumlah yang sangat banyak, serta adanya alat teknologiyang dapat digunakan untuk mengolah ikan kalengan tentunya akan sangat membantu dalam kesediaan pangan dan turut memengaruhi ketahanan pangan yang baik. Penggunaan teknologi teknologi informasi dan komunikasi seperti internet dapat berperan besar dalam bidang ketahanan pangan nasional. Setiap potensi sumber daya pangan hingga krisis ketahanan pangan di suatu wilayah dapat diinformasikan melalui internet. Kemudahan bagi siapa saja untuk mengaksesnya dapat meningkatkan peran masyarakat untuk secara bersama-sama meningkatkan ketahanan pangan melalui berbagai upaya yang dapat dilakukan.

4. Infrastruktur Indonesia sebagai negara kepulauan dimana antar pulau dipisahkan oleh lautan tentu membutuhkan infrastruktur perhubungan yang baik. Ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan terutama melalui laut dan udara menjadi hal penting untuk menghubungkan wilayah satu dengan lainya. Begitu pun dengan prasarana perhubungan didarat, yaitu jalan dan jembatan. Tersedianya jalan dan infrastruktur perhubungan lainya dengan kondisi yang baik, sangat membantu proses pendistribusian sumber daya pangan dari wilayah satu ke wilayah lainya. Hal ini akan meningkatkan kualitas ketahanan pangan baik secara lokal maupun nasional.

 

Peningkatan Ketahanan Pangan

Berbicara tentang kemandirian pangan berarti kita berbicara mengenai kemampuan negara dalam menjamin terwujudnya ketahanan pangan dan swasembada yang dihasilkan dari produksi pangan dalam negeri, terutama disektor pertanian. Ketahanan pangan bukan hanya sekedar kondisi fisik suatu daerah, berbicara ketahanan pangan adalah persoalan sosial, ekonomi dan politik. Kebijakan pembangunan, berkaitan dengan keputusan keputusan politik untuk menentukan arah pembangunan. Oleh karena itu diperlukan banyak strategi. Strategi yang dikembangkan dalam upaya peningkatan ketahanan pangan adalah :

1.         Pengembangan kapasitas produksi pangan nasional melalui rehabilitasi kemampuan, optimalisasi pemantapan dan pelestarian sumberdaya alam yaitu : lahan, air dan perairan.

2. Peningkatan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat menuju terwujudnya ketahanan pangan rumah tangga, serta perilaku sadar gizi.

3. Pengembangan agribisnis pangan yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan tersentralisasi dengan pengertian sebagai berikut :

a. Berdaya saing tinggi, yang diupayakan melalui peningkatan efisiensi dengan memanfaatkan inovasi dan teknologi, peningkatan produktivitas dan nilai tambah, serta penajaman orientasi pasar.

b. Berkerakyatan, yaitu memfasilitasi peluang yang lebih besar bagi masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam usaha kecil dan menengah, dengan mendaya gunakan sumberdaya yang dimilikinya.







Minggu, 15 Oktober 2023

LKPD 3 INETERAKSI DESA DAN KOTA

 

A.     Tujuan Pembelajaran

 

1.       Setelah kegiatan pembelajaran 2 ini kalian diharapkan mampu memahami Pola dan Faktor Interaksi Desa-Kota

 

2.       Setelah Kegiatan Pembelajaran  Ini Kalian Diharapkan Mampu Memahami Usaha Pemerataan Pembangunan Di Desa Kota

 

B.     Uraian Materi

B. POLA DAN FAKTOR INTERAKSI DESA-KOTA

1. Faktor-faktor yang mendasari interaksi desa – kota

Gravitasi 

untuk memudahkan anda memahami materi ini silakan belajar melalui power point ini, silakan di buka

Istilah gravitasi lebih dikenal setelah lahirnya Hukum Gravitasi Newton yang menyatakan bahwa:

 

a. Setiap benda mempunyai kekuatan menarik terhadap benda lain

b. Di antara dua benda terjadi proses saling tarik-menarik

c. Besarnya kekuatan tarik-menarik antara dua benda berbanding lurus dengan perkalian massa kedua benda itu dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya.

 

Hubungan antara Hukum Gravitasi Newton dengan interaksi desa – kota, adalah sebagai berikut :

a. Proses interaksi desa – kota terjadi karena masing-masing mempunyai kekuatan untuk menarik.

b. Kota mempunya kekuatan menarik terhadap desa karena alasan berikut:

1) Di kota terdapat beragam pusat daerah kegiatan dan aneka ragam lapangan kerja.

2) Kota sebagai simbol kemajuan dan jendela pembaharuan untuk hal-hal baru.

 

c. Desa mempunya kekuatan menarik terhadap kota karena alasan berikut:

 

1) Desa mempunyai banyak sumberdaya alam

 

2) Desa sebagai lumbung serta memberi aneka bahan pangan, bahan sandang, bahan perumahan, dan aneka bahan mentah industri.

 

3) Desa sebagai pusat tenaga kerja.

4) Desa mempunyai keanekaragaman sumberdaya lingkungan dan panorama alam.

d. Besar kecilnya kekuatan tarik-menarik antara kota dan desa tergantung pada tinggi-rendahnya potensi fisik-nonfisik kota dan desa tersebut serta tergantung ada atau tidaknya sarana dan prasarana transportasi penghubung kota dan desa.

 

Konsep model gravitasi ini didasarkan atas pernyataan bahwa jika ukuran salah satu atau kedua wilayah bertambah, maka pengaruh yang terjadi di antara kedua kota tersebut juga akan bertambah. Semakin jauh jarak antara kedua wilayah, maka akan semakin berkurang juga pengaruh yang terjadi di antara keduanya.

2. Zona Interaksi Desa – Kota

 

Kekuatan hubungan suatu wilayah kota yang berinterkasi dengan wilayah pedesaan biasanya sesuai dengan jarak ke pusat kota dan membentuk wilayah tertentu. Semakin jauh letak suatu daerah dari pusat kota, maka semakin lemah interaksinya dengan pusat kota tersebut. Wilayah interaksi ini akan membentuk lingkaran-lingkaran, di mulai dari pusat kota sampai ke wilayah desa.


Zona-zona interaksi desa dan kota oleh Bintarto (1986:66) dijelaskan sebagai berikut:

1. City, diartikan sebagai pusat kota

2. Suburban (sub daerah perkotaan), suatu wilayah yang lokasinya dekat pusat atau inti kota, dihuni oleh para penglaju.

3. Suburban Fringe (jalur tepi sub wilayah perkotaan), suatu wilayah yang melingkari suburban dan merupakan wilayah peralihan antara kota dan desa.

4. Urban Fringe (jalur tepi wilayah perkotaan paling luar) yaitu semua wilayah batas luar kota yang mempunya sifat-sifat mirip kota, kecuali inti kota.

5. Rural Urban Fringe (jalur batas desa dan kota), merupakan wilayah yang terletak antara kota dan desa, yang ditandai dengan pola

 

penggunaan lahan campuran antara sektor pertanian dan non pertanian.



SELENGKAPNYA


asetelag anda belajar materi di Link mari kita coba  bermain kusi berikut :

1. Zona Interaksi Desa – Kota , pada kuis ini anda memasang kesesuaian nama wilayah dan penjelasanya


2. Daya menarik Desa terhadap kota, pada kuis ini kalian mencoba memilih kalimat yang sesuai dengan daya tarik desa terhadap kota

SOAL DAN JAWABAN, SERTA PEMBAHASAN TKA KELAS XI

SOAL TKA GEOGRAFI KELAS XI Materi Kelas XI – Soal, Jawaban, dan Pembahasan A. PILIHAN GANDA 1. Dinamika Penduduk Data penduduk suatu wilaya...