Lapisan Tanah
(Pedosfer)
Pengertian
Pedosfer adalah salah satu unsur sfera yang dapat
dipahami sebagai lapisan tanah. Lapisan tanah ini menutupi seluruh
permukaan bumi dan berada di bagian paling atas dari litosfer.
Tanah sendiri merupakan batuan
yang telah mengalami pelapukan, atau campuran bagian-bagian batuan
dengan material serta bahan organik yang merupakan sisa kehidupan yang timbul
pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.
Dalam bahasa Yunani, tanah adalah pedon, oleh karena itu, ilmu yang mempelajari pedosfer serta aspek
geologi tanah disebut dengan pedologi.
Pedosfer terbentuk dari hasil pelapukan batuan dan aktivitas
makhluk hidup. Bisa dibilang, pedosfer adalah “kulit bumi” yang jadi tempat
berbagai aktivitas biologis dan geologis berlangsung. Di sinilah tanaman
tumbuh, hewan mencari makan, dan manusia bercocok tanam. Makanya, lapisan tanah
ini sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nah, struktur lapisan tanah ini nggak cuma satu lapis aja, lho.
Ada beberapa lapisan yang masing-masing punya karakteristik berbeda. Selain
itu, tiap lapisan ini juga punya peran masing-masing dalam mendukung kehidupan
di atas permukaan bumi.
Proses Terbentuknya Pedosfer
Pedosfer terbentuk dari proses panjang yang melibatkan pelapukan
batuan (baik secara fisik, kimia, maupun biologi), iklim, topografi, waktu, dan
aktivitas makhluk hidup. Proses ini bisa berlangsung ratusan hingga ribuan
tahun, tergantung kondisi lingkungannya.
Singkatnya, proses terbentuknya tanah dimulai dari pelapukan
batuan induk yang kemudian bercampur dengan bahan organik (seperti sisa tumbuhan
dan hewan).
Campuran ini akan membentuk lapisan tanah yang kita kenal
sekarang. Jadi, bisa dibilang pembentukan tanah dan persebaran jenis tanah itu
sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tanah tersebut berkembang. Selain
itu, pedosfer juga terbuat dari interaksi antara litosfer dengan atmosfer
kriosfer, hidrosfer, maupun biosfer.
Faktor Penting dalam Proses
Terbentuknya Pedosfer (Proses Pelapukan)
Dalam proses pelapukan, terdapat beberapa faktor penting dalam
pembentukan tanah. Adapun faktor pembentuk tanah adalah sebagai berikut:
1. Material Induk
Tanah bisa terbentuk dari hasil pelapukan mineral yang disebut
material induk. Material induk tidak selalu berupa batuan dasar, tetapi dapat
berupa endapan yang saling merekat.
2. Iklim
Suhu dan curah hujan juga sangat berpengaruh dalam proses
pembentukan tanah. Perubahan suhu yang ekstrim dapat mempercepat proses
pelapukan batuan sehingga pembentukan tanah juga berlangsung cepat.
Intensitas curah hujan yang tinggi juga dapat mempercepat proses
pelapukan. Aliran air juga dapat mempengaruhi kesuburan tanah. Semakin banyak
aliran air maka semakin banyak pula lapisan tanah bagian atas yang terbawa.
3. Waktu
Waktu dapat mempengaruhi sifat fisika, biologi, dan kimia dari
tanah yang akan terbentuk. Jika waktu pembentukan tanah singkat, maka sifat
tanah akan mirip dengan material induknya.
Jika waktu pembentukan tanah lama, maka faktor iklim berperan
lebih dominan sehingga sifat tanah yang terbentuk menjadi berbeda dengan
material induknya. Semakin lama proses pembentukan tanah, maka lapisan tanah
yang terbentuk juga semakin tebal.
4. Organisme
Organisme yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah
vegetasi dan mikroba tanah. Misalnya tanah gambut yang terbentuk di wilayah
rawa yang sebagian besar komponen penyusunnya adalah material organik.
Sementara komponen organik di tanah pasir yang ada di gurun sangat sedikit.
5. Topografi
Topografi berpengaruh terhadap lapisan tanah yang dihasilkan.
Topografi miring pada umumnya memiliki lapisan tanah tipis. Bahkan jika
kemiringan lereng sangat curam, maka tidak ada lapisan tanah di wilayah
tersebut karena semua hasil erosi bergerak ke bawah oleh pengaruh
gravitasi. Sebaliknya topografi landai menjadi tempat berkumpulnya hasil
erosi sehingga lapisan tanahnya lebih tebal.
Struktur Lapisan Tanah
Setelah tahu bagaimana pedosfer terbentuk, sekarang kita bahas yuk
tentang struktur lapisan tanah. Tanah itu nggak cuma gumpalan cokelat doang,
lho! Tanah terdiri atas beberapa lapisan yang disebut sebagai horizon. Berikut
ini penjelasannya:
Tabel: Perbandingan Horison Tanah
Memahami lapisan tanah adalah investasi untuk masa depan bumi. Dengan pengetahuan yang tepat, kita dapat memastikan bahwa tanah tetap menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Z-2)
Jadi, struktur lapisan tanah dari atas ke bawah adalah O, A, E, B,
C, dan R. Masing-masing lapisan memiliki peran penting dalam mendukung
kehidupan di atasnya.
Penyusun Pedosfer
Kalau kita bongkar lagi isi dari pedosfer, kita akan menemukan
berbagai macam komponen penyusun. Secara umum, penyusun pedosfer adalah sebagai
berikut:
1. Batuan
Merupakan suatu bahan padat yang terbuat secara alami serta juga
terdiri atas campuran mineral dan senyawa lainnya dengan berbagai komposisi.
2. Mineral
Mineral merupakan komponen penyusun terbesar dari tanah. Mineral
berasal dari pelapukan batuan, dan jadi sumber unsur hara bagi tanaman. Mineral
terbagi menjadi dua jenis, yaitu mineral primer dan sekunder.
Mineral primer biasanya ditemukan pada pasir dan danau, serta
berbentuk bulat atau tidak beraturan. Sedangkan mineral sekunder biasanya
berbentuk lebih stabil seperti tanah liat.
3. Air
Air bisa mengisi sekitar 2% hingga 50% dari volume tanah. Air
berperan penting untuk mengangkut nutrisi ke dalam tanaman, serta organisme
tanah. Selain itu, air juga berperan untuk memfasilitasi dekomposisi biologis
serta kimia.
4. Udara
Merupakan zat bebas yang banyak ditemui di mana saja, serta di
dalam tanah. Karena udara bisa menempati ruang yang sama dengan air, maka udara
bisa membentuk sekitar 2% hingga mencapai 50% dari volume tanah. Udara terdapat
di antara pori-pori tanah dan dibutuhkan oleh akar serta organisme tanah untuk
hidup.
5. Humus
Humus merupakan komponen yang sering ditemukan di tanah dan
mengisi sekitar 1% hingga 5% volume tanah. Humus sendiri berasal dari tumbuhan
dan juga hewan yang mati.
6. Mikroorganisme
Mikroorganisme merupakan komponen yang ditemukan di dalam lapisan
tanah dengan jumlah yang tinggi, namun jumlahnya kurang dari 1% dari volume
tanah. Bagian terbesar dari mikroorganisme adalah nematoda dan cacing tanah,
sedangkan bagian yang terkecil adalah actinomycetes, alga, bakteri, serta
jamur. Mikroorganisme mengkonsumsi air, bahan organik, serta udara untuk
mendaur ulang bahan organik yang mentah hingga menjadi humus. Gabungan
dari keenam komponen ini membuat tanah menjadi subur dan dapat mendukung
kehidupan.
Jenis-Jenis Tanah
Tanah itu ternyata punya banyak banget jenis, lho! Berdasarkan
ciri fisik, kimia, dan proses terbentuknya, para ahli mengklasifikasikan tanah
ke dalam berbagai kategori. Berikut adalah 12 jenis tanah yang diklasifikasikan
berdasarkan karakteristik fisik dan kimianya:
1. Tanah Aluvial
Jenis tanah aluvial adalah tanah yang berasal
dari proses endapan atau sedimentasi yang terjadi di daerah sungai,
danau, atau bahkan sedimentasi karena air hujan yang menggenang.
Umumnya, tanah aluvial termasuk tanah yang subur karena
unsur hara yang terdapat pada air secara perlahan terserap oleh tanah ini.
Ketika kondisi air sudah surut atau menguap barulah kita bisa menemukan tanah
aluvial ini. Biasanya tanah ini berwarna coklat hingga keabu-abuan.
2. Tanah Vulkanik
Jenis tanah vulkanik adalah tanah yang berasal dari
aktivitas vulkanik atau gunung meletus. Material yang keluar dari gunung
meletus nantinya akan mengalami pelapukan dan hasil pelapukan inilah yang
nantinya akan menjadi tanah vulkanik.
Tanah vulkanik ini sangat subur dan cocok untuk perkebunan
maupun pertanian karena kandungan unsur hara dan mineralnya yang
sangat tinggi. Tanah vulkanik dapat ditemukan di daerah pegunungan dan lereng
gunung berapi.
Tanah vulkanik dibagi menjadi dua jenis, yaitu regosol dan andosol.
a. Tanah Regosol
Jenis tanah regosol butirannya kasar, berwarna kuning hingga
keabuan, dan lebih cocok untuk ditanam tanaman palawija, buah-buahan,
dan tembakau.
b. Tanah Andosol
Sedangkan jenis tanah andosol butirannya lebih halus, berwarna
abu-abu, dan lebih cocok digunakan untuk pertanian.
3. Tanah Gambut
Jenis tanah gambut adalah tanah yang terbentuk dari
sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Gambut juga merupakan tahap awal
dari terbentuknya batu bara, tetapi untuk menjadi batu bara, masih diperlukan
waktu yang sangat lama.
Tanah gambut memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi,
drainase yang buruk, dan pada umumnya tidak subur. Tanah gambut
berwarna hitam karena tingginya kandungan karbon dari proses pembusukan
tanaman.
Tetapi, meskipun tidak subur, tanah gambut masih cocok
untuk ditanami beberapa jenis tanaman, seperti karet, kelapa, dan beberapa
jenis tanaman palawija.
Tanah gambut merupakan salah satu jenis tanah organosol.
Tanah organosol adalah tanah yang berasal dari pelapukan bahan organik.
Tanah organosol sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tanah gambut dan tanah
humus.
4. Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah yang terbentuk dari tumbuhan yang
sudah mengalami pelapukan sempurna. Tanah humus memiliki warna coklat
kehitaman, sangat subur dan gembur, serta memiliki kandungan mineral
dan zat hara yang tinggi.
Umumnya, tanah humus ini dapat ditemukan di daerah yang memiliki
banyak batuan pohon dengan daun yang lebat. Daun-daun dari pohon yang
berguguran nantinya akan membusuk hingga akhirnya menjadi tanah humus
ini. Sama seperti tanah gambut, tanah humus merupakan salah satu jenis
tanah organosol.
5. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah yang sebelumnya subur, namun
unsur haranya sudah hilang karena larut dan terbawa air hujan. Tanah ini
memiliki warna merah karena kandungan besinya yang tinggi, itulah mengapa
disebut juga sebagai tanah merah. Karena unsur haranya sudah terbilas, tanah
ini kurang subur dan hanya cocok ditanami tanaman tertentu seperti kopi,
cengkeh, dan kelapa sawit.
6. Tanah Litosol
Tanah litosol adalah tanah yang baru terbentuk karena
proses pelapukan yang masih rendah. Batuan pada tanah ini belum mengalami
pelapukan yang sempurna, oleh karena itu tanah ini memiliki tekstur yang
beragam, mulai dari halus, berpasir, hingga berkerikil.
Tanah ini kurang subur, namun cocok untuk
ditanami rumput ternak dan pohon-pohon besar karena lapisan tanahnya
masih sedikit dan lebih banyak batuan padat dan besar.
7. Tanah Latosol
Tanah latosol adalah tanah yang terbentuk karena pelapukan
dengan intensitas tinggi. Tanah ini dapat ditemukan di wilayah
dengan iklim hutan hujan tropis.
Tanah ini memiliki kandungan besi atau alumunium yang tinggi dan
mengalami oksidasi, sehingga berwarna kemerahan. Tanah latosol memiliki humus
di lapisan paling atasnya, sehingga dapat dikatakan subur. Namun, apabila
lapisan humus ini hilang, maka tanah ini langsung dinyatakan tidak
subur.
8. Tanah Mergel
Tanah mergel adalah tanah dari campuran kapur, pasir, dan
tanah liat. Tanah ini berwarna putih keabuan dan memiliki kandungan mineral
yang tinggi. Tanah ini dapat terbentuk akibat curah hujan yang tidak merata.
Tanah ini kurang subur karena memiliki kandungan organik
dan zat hara yang sangat sedikit. Oleh karena itu, tanah mergel hanya cocok
ditanami tanaman yang kuat dan tahan banting seperti pohon jati.
9. Tanah Kapur
Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari pelapukan
batuan kapur. Sesuai dengan karakteristik kapur, tanah ini tidak subur dan
tidak cocok ditanami tanaman yang membutuhkan banyak air, ya. Tapi tanah ini
cocok ditanami pohon yang kuat dan tebal seperti pohon jati.
10. Tanah Grumosol
Tanah grumosol adalah tanah yang berasal dari bahan induk
batu kapur, batuan lempeng, atau mergel yang memiliki kandungan liat
tinggi dan unsur hara rendah. Tanah ini dapat digunakan untuk menanam tanaman
semusim seperti padi, jagung, tebu, tembakau, atau kedelai. Tanah grumosol
dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gerabah.
11. Tanah Podsol
Tanah podsol adalah tanah yang berasal dari sedimen kuarsa dan
terbentuk karena pengaruh suhu yang rendah dan curah hujan yang tinggi.
Tanah podsol dapat berwarna kuning, merah, ataupun kuning keabuan.
Ciri-ciri utama dari tanah podsol adalah tanahnya tidak subur dan
bertekstur pasir hingga lempung. Tanah ini tidak subur karena curah hujan yang
tinggi, sehingga kandungan unsur haranya sudah tercuci oleh air hujan.
Tanah podsol juga memiliki kandungan alumunium dan besi yang
tinggi, oleh karena itu tanah podsol dapat berwarna kuning hingga kemerahan.
Tanaman yang cocok dengan tanah ini adalah karet, kelapa sawit, jambu
mete, dan kelapa.
12. Tanah Argosol
Tanah argosol adalah jenis tanah yang terbentuk di wilayah dengan
curah hujan tinggi dan proses pencucian yang intens. Tanah ini memiliki warna
yang kemerahan karena memiliki kandungan besi. Kandungan besi ini mengakibatkan
tingkat kesuburan tanah argosol rendah, sehingga tidak terlalu cocok ditanami
tanaman.
Kedua belas jenis tanah di atas termasuk jenis-jenis tanah di
Indonesia yang banyak ditemukan di berbagai wilayah. Klasifikasi jenis tanah di
atas sangat penting untuk menentukan pemanfaatan lahannya, apakah cocok untuk
pertanian, perkebunan, atau konservasi.
Tekstur Tanah: Komposisi Partikel
Mineral
Tekstur tanah mengacu pada proporsi relatif partikel mineral yang
berbeda ukuran dalam tanah. Partikel-partikel mineral tersebut dikelompokkan
menjadi tiga kategori utama: pasir, lanau, dan lempung.
Pasir: Partikel pasir adalah partikel
mineral yang paling besar. Tanah berpasir memiliki drainase yang baik, tetapi
kurang mampu menahan air dan nutrisi.
Lanau: Partikel lanau berukuran sedang.
Tanah berlanau memiliki drainase dan kemampuan menahan air yang sedang.
Lempung: Partikel lempung adalah partikel
mineral yang paling kecil. Tanah lempung memiliki kemampuan menahan air dan
nutrisi yang tinggi, tetapi drainasenya kurang baik.
Tekstur tanah sangat mempengaruhi sifat-sifat tanah, seperti
drainase, aerasi, kapasitas menahan air, dan kesuburan. Tanah yang ideal
untuk pertanian adalah tanah lempung berpasir, yaitu campuran pasir, lanau,
dan lempung dalam proporsi yang seimbang.
Struktur Tanah: Pengelompokan Partikel
Tanah
Struktur tanah mengacu pada bagaimana partikel-partikel tanah
saling mengelompok dan membentuk agregat atau gumpalan. Struktur tanah yang
baik sangat penting untuk drainase, aerasi, dan pertumbuhan akar tanaman.
Ada berbagai jenis struktur tanah, antara lain:
Granular: Agregat berbentuk bulat atau
membulat, seperti remah roti. Struktur granular umum ditemukan di topsoil yang
kaya akan bahan organik.
Gumpal: Agregat berbentuk tidak beraturan
dengan sisi-sisi yang tajam. Struktur gumpal dapat ditemukan di subsoil.
Prismatik: Agregat berbentuk prisma dengan
sisi-sisi vertikal yang panjang. Struktur prismatik sering ditemukan di tanah
yang memiliki kandungan lempung yang tinggi.
Kolumnar: Agregat berbentuk kolom dengan
bagian atas yang membulat. Struktur kolumnar mirip dengan struktur prismatik,
tetapi bagian atasnya membulat.
Lempeng: Agregat berbentuk lempengan tipis
yang tersusun horizontal. Struktur lempeng sering ditemukan di tanah yang padat
atau tertekan.
Struktur tanah dapat ditingkatkan dengan menambahkan bahan
organik, mengurangi pengolahan tanah, dan menghindari pemadatan tanah.
Warna Tanah: Indikator Sifat Tanah
Warna tanah dapat memberikan informasi tentang komposisi mineral,
kandungan bahan organik, dan kondisi drainase tanah. Warna tanah ditentukan
dengan membandingkannya dengan bagan warna Munsell.
Beberapa warna tanah yang umum dan indikasi yang terkait:
Hitam atau Coklat Tua: Menunjukkan
kandungan bahan organik yang tinggi.
Merah atau Kuning: Menunjukkan
kandungan oksida besi yang tinggi.
Putih atau Abu-abu: Menunjukkan
kandungan silika atau garam yang tinggi.
Biru atau Hijau: Menunjukkan
kondisi drainase yang buruk dan kekurangan oksigen.
Warna tanah hanyalah salah satu indikator sifat tanah dan harus
dipertimbangkan bersama dengan faktor-faktor lain.
Pengelolaan Tanah yang Berkelanjutan
Pengelolaan tanah yang berkelanjutan sangat penting untuk menjaga
kesuburan tanah, mencegah erosi, dan melindungi lingkungan. Beberapa praktik
pengelolaan tanah yang berkelanjutan meliputi:
Konservasi Tanah: Menerapkan
teknik-teknik untuk mengurangi erosi tanah, seperti terasering, kontur, dan
penanaman penutup tanah.
Pengelolaan Nutrisi: Menggunakan
pupuk secara bijaksana dan menerapkan praktik-praktik untuk meningkatkan
ketersediaan nutrisi bagi tanaman, seperti penambahan bahan organik dan rotasi
tanaman.
Pengelolaan Air: Menerapkan
teknik-teknik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, seperti irigasi
tetes dan pengelolaan drainase.
Pengendalian Hama dan Penyakit: Menggunakan metode pengendalian hama dan penyakit yang ramah
lingkungan, seperti pengendalian hayati dan penggunaan pestisida organik.
Pengolahan Tanah Konservasi: Mengurangi atau menghilangkan pengolahan tanah untuk
mengurangi erosi, meningkatkan kandungan bahan organik, dan meningkatkan
struktur tanah.
Dengan menerapkan praktik-praktik pengelolaan tanah yang
berkelanjutan, kita dapat menjaga kesuburan tanah untuk generasi mendatang dan
melindungi lingkungan.
Persebaran Tanah di Indonesia
Persebaran tanah di Indonesia berdasarkan jenis-jenisnya antara
lain:
1. Tanah aluvial
Dapat ditemukan di sekitar sungai Bengawan Solo (Jawa), sekitar
sungai Barito dan Kapuas (Kalimantan), dan sekitar sungai Mamberamo
(Papua).
2. Tanah vulkanik
Dapat ditemukan di seluruh pulau kita, yakni di Pulau Jawa, Bali,
Sumatra, dan Sulawesi.
3. Tanah gambut
Dapat ditemukan di daerah pantai Barat dan Selatan Kalimantan,
pantai Timur Sumatra, dan pantai Selatan Papua.
4. Tanah humus
Dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Papua,
dan sebagian Sulawesi.
5. Tanah laterit
Dapat ditemukan di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Jawa Barat,
dan Kalimantan Barat.
6. Tanah litosol
Dapat ditemukan di daerah curam sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah,
dan Nusa Tenggara Barat.
7. Tanah latosol
Dapat ditemukan di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan sebagian Pulau
Jawa.
8. Tanah mergel
Dapat ditemukan di daerah pegunungan atau dataran rendah yang
terdapat batuan kapur, seperti di sekitar Gunung Kidul, Kediri, dan Madiun.
9. Tanah kapur
Dapat ditemukan di daerah Indonesia yang kering, seperti sekitar
Gunung Kidul, Yogyakarta, dan daerah pegunungan kapur di sekitar Jawa Tengah,
Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
10. Tanah grumosol
Dapat ditemukan di Jawa Tengah (Demak, Jepara, Pati, Rembang),
Jawa Timur (Ngawi, Madiun) dan Nusa Tenggara Timur.
11. Tanah podsol
Dapat ditemukan di daerah pegunungan Sumatra, Kalimantan, Maluku,
Papua, dan Jawa bagian Barat.
12. Tanah argosol
Dapat ditemukan di daerah dengan curah hujan tinggi dan di wilayah
rawa, misalnya di Kalimantan Selatan, Riau, dan Sumatera Selatan.
Gambar jenis tanah
Sumber
https://www.ruangguru.com
https://mediaindonesia.com
https://www.bing.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar