Minggu, 07 September 2025

KUTUB DAN PUSAT PERTUMBUHAN WILAYAH

 



 



 KOMPOTENSI DASAR

Memahami konsep wilayah dan pewilayahan dalam perencanaan tata ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota

MATERI

Kutub dan Pusat Pertumbuhan Wilayah

 1. Teori Dasar Kutup Pertumbuhan dan Pusat Pertumbuhan Wilayah

a. Teori Tempat yang Sentral (Central Place Theory) Teori tempat yang sentral (Central Place Theory) pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli geografi bangsa jerman pada tahun 1933, yang bernama Walter Christaller dalam tulisanya yang berjudul : “ Die Zentralen Orte In Suddeustschand” atau dalam Bahasa inggrisnya “ Central Place In South Germany”. Dalam teori tersebut, Christaller menitik beratkan pada penentuan banyaknya kota, besarnya kota, dan persebaran kota. Untuk menganalisis penentuan banyaknya kota, besarnya kota, dan persebaran kota menggunakan dua konsep sebagai berikut.

 1) Jangkauan (range) adalah jarak yang perlu ditepuh orang untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan.

2) Ambang (threshold) adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangan suplai barang.

 Sutau lokasi pusat aktivitas yang senantiasa melayani berbagai kebutuhan penduduk harus berada pada pusat yang sentral. Maksud tempat yang sentral adalah suatu tempat atau kawasan yang memungkinkan partisipasi manusia yang jumlahnya maksimal, baik mereka yang terlibat dalam aktivitas pelayanan maupun mereka yang menjadi konsumen dari barang- barang pelayanan yang dihasilkan.

 Tempat yang sentral merupakan suatu titik simpul dari suatu bentuk heksagonal atau segi enam . Daerah segi enam merupakan wilayah-wilayah yang penduduknya yang mampu terlayani oleh tempat yang sentral tersebut. Pendapat ini diperkuat oleh Agust Locosh seorang ahli ekonomi jerman pada tahun 1945, teori tempat yang sentral dapat digunakan untuk menganalisis pusat-pusat pelayan dan kegiatan ekonomi yang sudah ada terhadap daerah sekitarnya. Misalnya, perencanaan lokasi pusat perniagaan, pasar, rumah sakit, sekolah, dan pelayanan sosial lainya. Tempat yang sentral dapat berupa kota besar, pusat perbelanjaan, pasar, rumah sakit, ibukota provinsi, dan kabupaten. Tempat yang sentral memiliki pengaruh yang berbeda-beda sesai dengan besar kecilnya wilayah tersebut , maka terdapat hierarki atau tingkatan tempat yang sentral. Kawasan dengan daya pengaruh yang berbeda-beda berdasarkan jenis pada pelayanan, hierarki tempat yang sentral dapat dibedakan menjadi tempat sentral yang berhierarki 3, 4, dan 7.

1)      Tempat sentral berhirarki 3 (K-3) Tempat sentral yang berhierarki 3 (K-3) disebut juga situasi pasar optimal. Hierarki 3 merupakan pusat pelayanan yang berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah disekitarnya. Kasus pasar optimal memiliki pengaruh 1/3 bagian dari wilayah tetangga di sekitarnya yang berbentuk heksagonal.

 


2)      Tempat sentral berhirarki 4 (K-4) Tempat sentral yang berhirarki 4 disebut juga disebut dengan situasi lalulintas optimum. Artinya, di daerah tersebut dan daerah-daerah sekitarnya yang terpengaruh tempat sentral akan senantiasa memberikan kemungkinan rute lalulintas yang paling efisien. Situasi lalu lintas optimum memiliki pengaruh ½ bagian dari wilayah-wilayah tetangga disekitarnya yang berbentuk heksagonal.


3) Tempat sentral berhirarki 7 (K-7) Tempat sentral berhierarki 7 (K-7) disebut sebagai situasi administrasi optimum. Tempat sentral ini mempengaruhi seluruh bagian wilayah tetanggaya, selain mempengaruhi wilayah sendiri. Tempat sentral yang berhierarki 7 dapat berupa kota pusat pemerintahan. 




Ada dua syarat untuk menerapkan teori tempat sentral yang dikemukakan oleh Christaller, yaitu keadaan topografi yang seargam sehingga tidak ada daerah yang mendapat pengaruh lereng atau pengaruh alam lainya dalam hubunganya dengan jalur transportasi. Syarat yang kedua adalah tingkat ekonomi penduduk yang relatif homogen dan tidak memungkinkan adanya produksi primer, misalnya yang menghasilkan padi, kayu, dan batu bara.

b. Teori Polarisasi Ekonomi Teori ini dikemukakan oleh Guntur Myrdad yaitu setiap wilayah mempunyai pusat pertumbuhan yang menjadi daya Tarik bagi tenaga buruh dari pinggiran. Bahkan bukan hanya tenaga buruh, melainkan banyak hal misalnya tenaga terampil dan modal. Teori ini mengungkapkan bahwa semakin lama interaksi tersebut terjalin akan menimbukan kenampakan baru yakni polarisasi pertumbuhan ekonomiatau disebut juga dengan kutub pertumbuhan ekonomi yang cenderung merugikan daerah pinggiran. Dengan adanya backwash effect terjadi ketimpangan wilayah, meningkatnya kriminalitas, dan kerusakan di daerah pinggiran.

 c. Teori Kutub Pertumbuhan

Teori kutub pertumbuhan atau dikenal dengan istilah growth poles theory. Pertama kali dikemukakan oleh peroux 1955. Porroux dalam penelitianya lebih menekankan pada proses-proses pembangunan. Pendapat mengenai teori kutub pertumbuhan menjelaskan bahwa pembangunan bukan merupakan suatu proses yang terjadi secara serentak, tetepi muncul di tempat-tempat tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda-beda. Wilayah yang dijadikan pusat pembangunan disebut kutub pertumbuhan. Pemusatan wilayah-wilayah pertumbuhan dibedakan menjadi 3 komponen berikut.

1) Wilayah khusus, misalnya daerah terbelakang dan daerah aliran sungai

2) Prinsip homogenitas, misalnya wilayah geografi fisisk atau sosial , wilayah budaya dan wilayah ekonomi

 3) Konsep hubungan ruang, yaitu wilayah fungsional yang disebut juga wilayah terpusat

 Industri baru akan memilih tempat yang berdekatan dengan daerah industri yang telah ada karena telah tersedia fasilitas yang memadai,seperti listrik, air bersih, dan jalan. Daerah yang maju disebut dengan pusatpertumbuhan, sedangkan daerah yang belum maju disebut dengan pinggiran. Proses pembentukan pusat pertumbuhan mengikuti fase-fase pertumbuhan sebagai berikut.

1)      Fase I, yaitu fase praindustri

 Pada masa awal terdapat wilayah yang belum berkembang, yang ditandai oleh banyak kota kecil yang tersebar merata dan setiap kota tidak mendominasi kota yang lain. Kondisi ekonomi wilayah-wilayah tersebut cenderung tidak berkembang dan setiap kota hanya melayani wilayah sendiri.

2)      Fase II, yaitu fase industri awal

 Fase ini terjadi pada salah satu kota yang berkembang lebih cepat daripada yang lainya, sehingga tumbuh menjadi primate city. Kota dapat berkembang lebih cepat karena memiliki kelebihan baik di bidang sumber daya alam maupun pada sumber daya manusia. Primate city merupakan kota terbesar yang menjadi pusat wilayah atau disebut dengan core (C) = Pusat, yang mendominasi kota-kota lainya. Pada fase ini terjadi perpindahan tenaga terampil, sumber daya alam, dan modal dari daerah pinggiran.

3)      Fase III, yaitu fase transisi

Pada fase ini industri industri yang sedang berkembang, pada primate city akan mendominasi akan mendominasi sebagian besar wilayah. Namun, tidak sekuat fase kedua karena sekitar primate city mulai berkembang pusat-pusat pertumbuhan. Bahan mentah, tenaga terampil, dan modal tidak hanya mengalir di primate city, tetapi juga menuju ke pusat-pusat pertumbuhan yang lain. Pada fase ini perkembangan wilayah belum stabil karena masih terdapat kantong-kantong wilayah yang berkembang.

4)   Fase IV, yaitu integrasi spasial Pada fase ini setiap kota telah berkembang sesuai dengan hierarkinya, sehingga sudah terbentuk pusat-pusat pertumbuhan yang saling berinteraksi dengan pusat pertumbuhan yang lainya. Setiap wilayah telah terintegrasi secara nasional dan tidak ditemukan lagi katalog-katalog wilayah yang terbelakang. Jika semua wilayah telah berinteraksi dengan wilayah lain secara fungsional, akan terbentuk hierarki kota dengan baik.

2. Interaksi antara Pusat Pertumbuhan Daerah dan Sekitarnya Interaksi antara pusat pertumbuhan secara sosial,ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan memiliki interaksi tibal balik antara pusat pertumbuhan dengan daerah disekitarnya.

a. Sistem Keruangan Pertumbuhan Kota menurut Hagget

 1) Perbedaan keruangan dalam berapa kelompok masyarakat menyebabkan adanya keinginan untuk berinteraksi sehingga akan muncul pola perpindahan.

 2) Proses pola perpindahan terlihat tanpa ada rintangan dan bergerak ke seluruh arah tanpa melalui jalur tertentu. Umumnya perpindahan itu melalui jalur kanal atau koridor. Gambaran tersebut menjelaskan eleman kedua yang perlu dijadikan sebagai analisis adalah karakteristik perpindahan melalui kanal, yaitu jarring-jaring dari pinggiran sampai ke pusatnya. Hal ini sebagai cerminan dari sistem transportasi dari pinggiran ke kota dan berakhir pada lokasi yang unggul sebagai pusat suatu sistem.

 3) Proses dekomposisi, yaitu pembentukan pusat atau nodes, Kemunculan dekomposisi dari pusat-pusat wiayah (nodal region) yang disebabkan oleh keunggulan dari beberapa lokasi pusat yang satu akan unggul dari yang lainya.

4) Perkembangan proses dekomposisi yang mengarah pada terbentuknya perjenjangan hierarki pusat-pusat tersebut merupakan suatu sistem organisasi dari pusat wilayah.

5) Perlu analisis daerah daerah pembentukan asosiasi, tempat elemenyang ada di permukiman tersebut . Surface yang berupa areal lahan yang disita terdapat fenomena pusat pemukiman dan jarring-jaring jalan yang tersusun dalam bentuk bermacam-macam penggunaan lahan.

6) Perubahan yang terjadi tidak merata di seluruh permukaan bumi, hanya terjadi pada satu atau beberapa lokasi tertentu. Lokasi tersebut disebarkan sepanjang rute melalui pusat tertentu dan menyebar dengan sistem perjenjangan. Proses peubahan melalui ruang dan waktu disebut difusi keruangan.

 b. Karakteristik Pertumbuhan Kota menurut Houston J.M

1) Stadium pembentukan inti kota (nuclear phase) Stadium ini merupakan tahap pembentukan central busines distric (CBD. Pada masa ini baru dirintis pembangunan gedung-gedung utama sebagai penggerak kegiatan yang ada dan baru mulai meningkat. Pada saat ini pula daerah yang mula-mula terbentuk oleh banyak gedung yang berumur tua dan berbentuk klasik serta pengelompokan fungsi kota yang termasuk penting. Pada tahap ini , kenampakan kota akan berbentuk bulat karena masih berada pada awal pembentukan kota, kenampakan kota yang berbentuk hanya meliputi daerah yang sempit

2) Stadium formatif (formative phase) Pada tahap ini perkembangan industrI dan teknologi mulai meluas termasuk sector transportasi, komunikasi, dan perdagangan. Semakin maju sector industri, transportasi, dan perdagangan, semakin meluas dan kompleks keadaan pabrik dan kondisi perumahan masyarakat kota. Daerah- daerah pekembangan tersebut lokasinya berbeda disepanjang jalur transportasi dan komunikasi.

3) Stadium moderen (modern phase) Pada tahap ini kenampakan kota jauh lebih kompleks dan mulai timbul gejala penggabungan dengan pusat-pusat kegiatan di kota satelit dan kota lainya. Usaha identifikasi kenampakan kota mengalami kesulitan, terutama pada penentuan batas-batas fisik terluar dari kota yang bersangkutan. Kenyataan ini terjadi karena persebaran fungsi pelayanan telah masuk ke daerah pedesaan.

 

Perbedaan dasar kutub dan pusat pertumbuhan suatu wilayah

Dalam Geografi terdapat dua istilah yang hampir sama, yaitu Kutub Pertumbuhan dan Pusat pertumbuhan. Kutub pertumbuhan merupakan konsep ekonomi, sedangkan pusat pertumbuhan berkaitan dengan keruangan.

 


Senin, 01 September 2025

LKPD 1 PENGETAHUAN DASAR PETA, PENGINDERAAN DAN SIG

 



KD 3: KD 3.2 Memahami dasar-dasar pemetaan, Pengindraan Jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG)

KD 4: 4.2 Membuat peta tematik wilayah provinsi dan/atau salah satu pulau di Indonesia berdasarkan peta rupa Bumi


 
MATERI POKOK
1 DASAR-DASAR PEMETAAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Menyebutkan pengertian peta

 2. Menjabarkan komponen-komponen peta

 3. Menjelaskan fungsi peta

4. Mengidentifikasi tujuan pembuatan peta

 

B. Materi Pembelajaran

1. Pengertian Peta

Peta adalah suatu representasi/gambaran unsur-unsur atau kenampakan kenampakan abstrak objek-objek yang dipilih dari permukaan bumi, atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi, dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar yang diperkecil/diskalakan (International Cartographic Association, 1973). Dari definisi di atas terdapat tiga hal penting yang harus dipahami, yaitu:

 a. Adanya penggambaran objek yang terdapat dimuka bumi (melalui simbolisasi).

b. Adanya proyeksi dari permukaan bumi yang berbentuk tidak datar kedalam bidang datar

c. objek-objek yang digambarkan diperkecil (dengan skala)

 Erwin Raisz ( dalam K. Endro Sariyono dan M. Nursaban, 2010: 2) mengemukakan bahwa peta adalah suatu gambaran konvensional dari permukaan bumi,  sepertinya kenampakannya oleh kita tegak lurus dari atas, dan ditambah huruf huruf dan angka-angka sebagai informasi.

 

2. Komponen Peta

a.  Judul Peta



 

Judul merupakan kata yang melambangkan isi. Baik di dalam artikel maupun berita, seseorang akan membaca judul terlebih dahulu. Demikian halnya dengan peta. Judul peta memuat isi peta. Judul peta juga menginformasikan isi pada peta. Sebelum membaca peta, biasanya seseorang akan membaca judulnya terlebih dahulu. Ada dua peletakan judul peta. Yang pertama ada di tengah atas peta, atau di bagian bawah pada peta.

b. Garis Tepi



 

Garis tepi juga dinamakan dengan border. Garis tepi atau border merupakan garis- garis yang terletak di bagian tepi peta. Ujung- ujung tiap garis bertemu dengan ujung garis yang berdekatan. Garis tepi atau border ini biasanya dibuat tebal dan juga rangkap dua.

3.                C. Skala Peta

4.                        



Skala peta, pasti kita tidak asing lagi dengan yang satu ini. Skala peta merupakan sebuah bagian dari peta yang menunjukkan sebuah ukuran perbandingan. Skala peta adalah perbandingan jarak antara yang tercantum di peta dengan jarak yang sebenarnya. Mengapa dibutuhkan skala peta? Karena semua jenis peta yang ada pada dasarnya adalah hasil pengecilan dari sebuah wilayah yang ada di permukaan Bumi. Bedanya, bumi yang bulat dilukiskan dalam bidang datar. Proses pengecilan ini tentu saja akan menghasilkan perbandingan antara kenyataan bentuk yang ada di muka bumi dengan gambar yang dihasilkan. Nah, angka tersebut lah yang disebut dengan istilah skala.

Perlu kita ketahui bersama bahwa skala merupakan faktor yang sangat penting di dalam sebuah peta. Melalui pengamatan skala, kita dapat membayangkan luas wilayah maupun jarak antara dua tempat yang sesungguhnya di permukaan Bumi. Dalam penulisan skala peta ada beberapa macam. Macam- macam penulisan skala peta ini antara lain sebagai berikut:

·         Skala Pecahan atau skala numerik

1:400.000 Cm

Skala pecahan atau skala numerik merupakan skala peta yang dinyatakan dalam bentuk pecahan atau angka perbandingan. Contohnya adalah skala peta 1: 20.000. Skala yang semacam ini dapat diinterpretasikan atau diterjemahkan dengan 1 cm pada peta mewakili 20.000 cm pada jarak yang sesungguhnya atau jarak di lapangan 20.000 cm adalah 0,2 km.

·         dapat ala merupakan faktor yang sangat penting di dalam sebuah peta. melalui mi dengan gambar yang dihasiskala garis atau skala Grafis


 


skala garis atau skala grafis merupakan skala yang dinyatakan dalam bentuk sebuah ruas garis bilangan atau batang pengukur. Skala garis ini merupakan skala yang lebih jarang digunakan daripada skala numerik atau pecahan.

·         Skala kata atau skala verbal

Satu centimeter dalam peta sama dengan empat kilometer di permukaan bumi

Jenis skala yang ketiga adalah skala kata atau yang disebut juga dengan skala verbal. Skala kata atau skala verbal ini merupakan skala yang dinyatakan dalam bentuk kalimat lengkap. Contoh dari skala verbal atau skala kata ini adalah 1 sentimeter pada peta berbanding dengan 500 meter di muka bumi. Apabila kita telaah lebih jauh, maka skala kata atau skala verbal ini merupakan interpretasi skala numerik atau angka yang kita jelaskan tadi. Dibandingkan dengan skala pecahan atau numerik, skala verbal atau kata ini lebih jarang digunakan.

4.    Orientasi atau Arah Mata Angin

 

 



 

Yang selalu ada pada peta dan tidak boleh dilupakan, meskipun kita sudah hafal adalah orientasi atau arah mata angin. Arah mata angin akan mempertegas keyakinan kita akan arah sehingga kita akan semakin mudah untuk memahami arah dalam membaca peta. Gambar arah mata angin dalam peta ada berbagai macam bentuk. Ada yang digambar lengkap dengan 8 sudut atau anak panah, ada pula yang hanya empat anak panah atau empat arah pokok (timur, selatan, barat, dan utara), bahkan ada yang hanya satu arah saja, yakni arah utara. Apapun bentuk dari mata angin tersebut, semuanya sangat membantu pembaca untuk dapat memahami lebih jelas mengenai isi dari peta.

5.       Garis Astronomis



 

Dalam peta, kita pasti melihat ada garis- garis yang melintang dan juga membujur di atas pulau- pulau atau wilayah yang ada di peta. Garis- garis tipis yang melintang dan membujur tersebut dinamakan sebagai garis astronomis. Garis astronomis merupakan garis khayal yang dibuat dan digunakan dalam rangka mempermudaj menentukan posisi suatu tempat di muka bumi. Garis astronomis ini dinyatakan dalam bentuk garis lintang dan juga. Garis lintang atau latitude merupakan garis khayal yang melingkari Bumi dengan arah horizontal. Sementara garis bujur atau longitude atau garis meridian adalah garis khayal yang melingkari Bumi secara vertikal yang membujur dan menghubungkan kutub utara dengan kutub selatan. Garis- garis astronomis ini meski merupakan garis khayal, namun mempunyai fungsi yang sangat banyak.

Garis lintang mempunyai fungsi banyak sekali, terutama untuk menentukan daerah musim. Sementara garis bujur sangat berfungsi untuk menentukan letak daerah waktu atau sebagai penentu waktu di suatu daerah atau tempat.

6.       Lettering atau Tata Penulisan



Lettering atau tata penulisan merupakan salah satu bagian dari peta. Tidak hanya peta, bahkan di berbagai objek bergambar, keberadaan tulisan memanglah sangat penting. Tata penulisan pada peta ini mempunyai aturan tersendiri yang membedakan objek- objek geografi yang ditampilkan pada peta. Dalam pembuatan peta, ada empat tata penulisan yang harus diperhatikan. Keempat tata penulisan tersebut antara lain sebagai berikut:

·         Nama- nama ibu kota, negara, benua dan pegunungan harus ditulis dengan huruf kapital tegak.

·         Nama- nama samudera, teluk yang luas, laut dan juga selat yang luas harus ditulis dengan huruf kapital miring.

·         Nama- nama kota kecil dan gunung harus ditulis dengan huruf kecil tegak. Awal nama kota dan gunung harus ditulis dengan huruf besar.

·         Nama- nama sungai, danau, selat yang sempit, dan teluk yang sempit harus ditulis dengan huruf kecil miring.

Nah, itulah keempat aturan penulisan atau tata tulis dalam membuat peta. Atura- aturan tersebut harus diperhatikan dan juga diindahkan supaya menghasilkan sebuah peta yang berkualitas serta nyaman dan mudah untuk dibaca dan dipahami.

7.       Warna



Unsur- unsur dari peta yang lainnya yang juga perlu untuk diperhatikan adalah warna. Warna tidak hanya bergfungsi untuk mempercantik tampilan saja. Namun pada peta, warna juga mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini karena warna warna menyimpan berbagai macam informasi yang berkaitan dengan permukaan lokasi yang digambarkan pada peta. Warna- warna yang ada di dalam peta tersebut antara lain sebagai berikut:

·         Warna hitam

Di dalam peta, warna hitam merupakan warna yang digunakan untuk menunjukkan batas administrasi, lettering maupun detail mengenai penghunian. Jadi warna hitam ini merupakan warna yang menunjukkan sebuah batas.

·         Warna biru

Kemudian ada warna biru. Warna biru di dalam peta digunakan untuk menunjukkan tubuh air, seperti sungai, danau, waduk, maupu laut. Sementara itu di peta kita seringkali mendapati warna biru dengan berbagai macam degradasi. Nah degradasi warna biru tersebut menunjukkan tingkat kedalaman dari tubuh air tersebut. Warna biru yang semakin tua menunjukkan kedalaman yang lebih. Jadi antara perairan yang mempunyai warna biru tua dengan perairan yang warnanya biru muda, lebih dalam yang berwarna biru tua.

·         Warna hijau

Selanjutnya adalah warna hijau. Biasanya warna hijau adalah warna yang menunjukkan tumbuhan. Dan benar saja, di dalam peta, warna hijau ini berhubungan dengan tumbuh- tumbuhan. Lebih tepatnya, warna hijau di peta menunjukkan dataran rendah, vegetasi atau tumbuhan serta hutan (baca: hutan lindung).

·         Warna merah

Di dalam pembuatan peta, kita juga menggunakan warna merah. Warna merah di dalam peta menunjukkan keberadaan jalan raya, atau untuk menunjukkan letak kota ataupun ibu kota.

·         Warna coklatskala ss

Dan yang terakhir adalah warna coklat. Di dalam pembuatan peta kita juga menggunakan warna coklat. Warna coklat di dalam peta ini digunakan untuk menunjukkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng yang sangat besar atau sangat curam. Sebagai contoh adalah dataran tinggi atau daerah pegunungan.

Nah, itulah beberapa warna yang dipakai di dalam pembuatan peta. Warna- warna tersebut seringkali kita temukan di setipa wilayah pada peta. Warna- warna tersebut ternyata tidak sembarangan dipilih, namun mempunyai artinya masing- masing.

8.       Simbol



Setelah adanya warna, kemudian yang ada di dalam peta ainnya adalah simbol. Simbol merupakan tanda konvensional yang terdapat di dalam peta untuk mewakili keadaan sebenarnya ada di lapangan atau kenyataannya. Dalam pembuatan peta, pemberian atau pembuatan simbol tidak boleh sembarangan. Setidaknya ada beberapa syarat untuk dapat membuat simbol yang baik, beberapa syarat tersebut antara lain sebagai berikut:

·         Kecil

Simbol pada peta haruslah dibuat kecil. Hal ini bertujuan agar simbol tidak terlalu memerlukan ruang pada peta, sehingga tidak akan memakan tempat dan membuat peta menjadi terlihat penuh.

·         Sederhana

Simbol pada peta juga harus dibuat sederhana, hal ini bertujuan agar simbol tersebut mudah untuk digambar.

·         jelas

·         ontoh adalah dataran tinggi atau daerah pegunungan.miringan a uk menunjukkan letak kota atau Allah lebih dalam yang berwarna bi

Sifat yang paling penting yang dimiliki oleh simbol adalah, simbol harus jelas. Hal ini bertujuan agar tidak menimbulkan salah tafsir atau salah arti oleh pembaca.

Nah, itulah beberapa syarat penulisan simbol pada peta. Syarat- syarat tersebut haruslah dimiliki simbol peta supaya bisa menjadi simbol yang dinamis dan mudah dimengerti semua pambaca. Di dalam peta, ada beberapa jenis simbol. Jenis- jenis simbol yang ada di peta mempunyai fungsinya masing- masing. Beberapa jenis simbol pada peta antara lain sebagai berikut:

·         Simbol titik atau simbol dot

Jenis simbol yang pertama adalah simbol titik atau simbol dot. Simbol titik atau simbol dot merupakan simbol yang digunakan untuk menyatakan posisi atau lokasi suatu tempat. Simbol titik atau simbol dot ini dapat berupa simbol pictorial atau gambar maupun simbol huruf.

·         Simbol garis

Jenis simbol yang kedua adalah simbol garis. Simbol garis merupakan simbol yang digunakan untuk menggambarkan batas- batas administrasi, jalan, maupun sungai. Simbol ini dapat berupa garis bersambung maupun putus- putus, dan juga garis tipis maupun tebal. Biasanya, simbol garis ini digunakan untuk menyatakan batas- batas wilayah, maupun sungai.

·         Simbol luas

Jenis simbol yang ketiga adalah simbol luas. Simbol luas ini merupakan simbol yang digunakan untuk menyatakan tempat- tempat dengan luas tertentu.

9.       Legenda



Di dalam peta, pasti kita bertemu dengan legenda. Di peta, biasanya legenda ini biasanya dituliskan dalam kotakan di sebelah pojok. Legenda juga disebut dengan keterangan. Yang sebenarnya, peta merupakan sebuah informasi mengenai suatu tempat yang ditulis sederhana dengan berbagai bentuk simbol. Maka untuk membacanya diperlukan keterangan. Nah, keterangan- keterangan mengenai peta dan apa saja yang ada di dalamnya inilah yang disebut dengan legenda. Legenda ini pada umumnya ditulis ringkas di dalam sebuah kotak yang diletakkan di pojok bawa. Namun tidak semua peta meletakkan legenda di pojok bawah. Legenda juga bisa diletakkan di tempat- tempat lain yang sekiranya tidak mengganggu kenampakan peta sehingga membuat peta tersebut tetap terlihat menarik.

10.   Sumber dan Tahun Pembuatan Peta



Dalam membuat peta, hal wajib yang harus dicantumkan adalah sumber dan tahun pembuatan peta. Sumber dan tahun pembuatan peta merupakan komponen yang sangat penting dalam pembuatan peta. Maka dari itulah, sangat penting bagi kita untuk memperhatikan sumber serta tahun pembuatan peta apabila ingin mendapatkan peta yang terpercaya. Mengapa hal tersebut harus dilakukan? Karena sumber serta tahun pembuatan peta ini menunjukkan data- data yang digunakan dalam pemetaan, sehingga akan memberikan kepastian informasi yang disajikan adalah informasi yang akurat.tahun pembuatan peta menunjukkan kapan peta tersebut di buat. Jika kita membutuhkan peta untuk kegiatan tertentu, maka pilihlah peta dengan tahun pembuatan yang paling baru. Hal ini karena peta yang paling baru tersebut akan menyajikan berbagai informasi yang up to date, sehingga sesuai dengan keadaan sekarang.

11.   Inset Peta

 

Komponen dari peta yang selanjutnya adalah inset peta. Inset peta merupakan komponen pada peta yang digunakan untuk memperjelas posisi suatu wilayah yang ada di peta. Inset peta ini terdiri atas dua jenis, yakni inset lokasi dan juga inset pembesaran. Keterangan lebih lanjut mengenai inset lokasi dan inset pembesaran adalah sebagai berikut:

·         Inset lokasi



Inset lokasi pda peta digunakan untuk memberikan gambaran secara global wilayah di sekitar daerah yang dipetakan. Sebagai contoh adalah peta Provinsi Riau memerlukan inset peta sumatera atau Indonesia.

·         Inset inset peta. inset jikan berbagai informasi yang up to date, sehingga sesuai dengan keadaan seapembesaran



Inset pembesaran merupakan inset yang digunakan untuk menggambarkan wilayah yang kecil.


TUGAS BUKA DI SINI

  

SIKLUS HIDROLOGI

  HIDROLOGI DAN SIKLUS HIDROLOGI   Bumi merupakan  planet di tata surya  yang mana permukaannya terdiri dari dua bentuk, yakni daratan d...