Eksogen berasal dari kata eksos yang
berarti luar dan genos yang berarti asal. Eksogen berarti tenaga pembentuk muka
bumi yang berasal dari luar. Tenaga eksogen memiliki sifat merusak karena dapat
mengubah bentuk muka bumi yang telah ada. Tenaga eksogen dapat dibedakan
berdasarkan tenaga pem bentukannya, yaitu sebagai berikut:
1). Radiasi sinar matahari
Suhu udara pada siang hari yang terasa panas, dan pada malam hari yang dingin
mengakibatkan terjadinya pengembangan dan pengerutan batuan yang menyebabkan
batuan menjadi pecah. Peristiwa ini disebut pelapukan.
2) Angin
Tenaga eksogen yang berasal dari
tenaga angin dapat dengan mudah diamati di daerah arid dan semi arid. Tenaga
angin dapat menimbulkan dua tenaga, yaitu deflasi dan korosi.
3) Air
Tenaga eksogen lain yang dominan
dalam mengubah bentuk muka bumi adalah air. Air memiliki daya perusak yang
tinggi. Air yang mengalir terutama pada daerah-daerah berlereng curam atau
terjal akan bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga mengikis dan mengangkut
lapisan-lapisan tanah yang dilaluinya.
4) Gletser
Perubahan bentuk permukaan bumi
akibat gletser (salju atau es yang mencair) disebut eksarasi atau erosi
glasial. Jenis perubahan bentuk muka bumi ini dapat ditemui pada daerah-daerah
pegunungan tinggi yang permukaannya tertutup salju. Lambat laun salju yang
menumpuk akan mengalami peluruhan karena massa yang dimiliki salju lebih berat.
Akibat massa yang berat ini,
bongkahan es tersebut akan ambruk terpengaruh oleh gravitasi bumi dan meluncur
melalui salurannya ke daerah yang lebih rendah. Kecepatan longsoran bongkahan
es sangat bergantung pada kemiringan lereng asal bongkahan tersebut. Semakin
miring lerengnya maka akan semakin cepat pula kecepatan luncurannya. Ketika
meluncur gletser tersebut akan mengikis batuan yang dilaluinya sehingga
terbentuklah endapan hasil pengikisan oleh gletser yang disebut moreina.
Jenis-Jenis Tenaga Eksogen
Tenaga eksogen memiliki empat
jenis yaitu pelapukan, erosi, sedimentasi, dan pergerakan massa tanah. Yuk,
simak penjelasan lengkapnya!
1. Pelapukan
Pelapukan adalah proses
penghancuran batuan dan mineral di permukaan bumi, yang biasanya menghasilkan
tanah. Pelapukan terjadi karena faktor fisika, biologi, dan kimia. Berikut
penjelasannya:
·
Pelapukan Fisik: proses penghancuran batuan
menjadi bentuk yang lebih kecil tanpa mengubah susunan kimianya. Biasanya
pelapukan ini terjadi akibat perubahan musim atau suhu yang ekstrem antara pagi
dan malam hari seperti di gurun.
Makanya, kalau kamu main-main ke gurun, tidak jarang bebatuan di sana banyak
yang pecah. Beda kayak di kota tempat kamu tinggal.
Batunya banyak yang padat dan keras. Hal ini disebabkan karena perubahan suhu
siang dan malam di gurun cukup tinggi.
·
Pelapukan Kimia: proses pelapukan batuan
akibat reaksi kimia, sehingga mengubah susunan kimianya. Proses pelapukan ini
terjadi saat batu berinteraksi dengan zat kimia lain, misalnya air hujan yang
mengandung asam.
Dari namanya aja udah jelas banget ya. Pelapukan kimia adalah
jenis pelapukan yang terjadi karena faktor… astrologi kimia
dong! Salah satu faktor penting dalam pelapukan kimia adalah air. Iya, coba aja perhatiin. Gembok rumah kamu pasti akan lebih cepat karatan kalau
sering terkena hujan, kan? Karat yang timbul itu lah yang dinamakan pelapukan
kimia.
Emang gimana caranya air hujan bisa membuat gembok besi jadi
karat?
Sewaktu terkena air hujan, akan terjadi yang namanya hidrolisis air. Hal ini membuat tingkat
keasaman gembok besi meningkat. Ion H+ yang muncul
dari air hujan, perlahan-lahan akan membuat korosi deh.
·
Pelapukan Biologis: proses pelapukan batuan karena
aktivitas makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, atau mikroorganisme. Contoh:
akar tumbuhan tumbuhan di celah batu yang bisa membuat batu retak.
oba, deh, kamu ketok kusen pintu rumah kamu. Kalau bunyinya
‘Dok! Dok! Dok!’ berarti kusen kamu dimakan rayap dan lapuk. Bunyi itu
menandakan kayu kamu telang kopong/berongga di bagian dalamnya. Kalau kamu
nggak ngetok tapi tetap muncul bunyi ‘Dok! Dok! Dok!’ berarti kamu lagi di
RSUD. Kalau sewaktu kamu ketok bunyinya ‘Sst! Sst! BERISIK!’ itu mungkin
saudara kamu keganggu karena kamu kekencengan ngetoknya.
Contoh lain dari pelapukan biologis adalah lumut yang ada di atas bebatuan. Atau akar tumbuhan yang terselip
di antara bebatuan. Lama-kelamaan, ketika si akar membesar,
dia akan menembus batu itu. Alhasil, batunya pecah dan mengalami pelapukan deh.
2. Erosi (Pengikisan)
Erosi adalah proses pengikisan
tanah dan batuan oleh air, angin, es, gelombang laut, atau gletser yang membawa
material dari satu tempat ke tempat lain. Proses ini dapat membentuk berbagai
bentuk permukaan bumi seperti lembah, sungai, dan delta. Erosi dibagi menjadi
empat jenis berdasarkan penyebabnya:
a. Ablasi (Erosi Permukaan Air)
Ablasi adalah erosi yang
terjadi akibat aliran air, seperti sungai atau hujan, yang membawa material
kecil dan mengikis permukaan tanah. Proses ini terbagi menjadi beberapa tahap:
·
Erosi percik (splash erosion): Air hujan jatuh dan mulai
mengikis tanah.
·
Erosi lembar (sheet erosion): Pengikisan lapisan tanah
bagian atas, yang mengurangi kesuburan.
·
Erosi alur (rill erosion): Terbentuknya alur kecil
akibat pengikisan tanah.
·
Erosi parit (gully erosion): Pengikisan yang membentuk
parit atau lembah karena aliran air yang terus menerus.
b. Abrasi (Erosi Air Laut)
Abrasi adalah erosi yang
terjadi di daerah pantai akibat gelombang laut yang terus menghantam tebing
atau garis pantai. Gelombang membawa pasir dan batu kecil yang mengikis batuan
di tepi pantai, membentuk tebing curam atau gua laut.
c. Korasi & Deflasi (Erosi
Angin)
Korasi dan deflasi adalah erosi
yang disebabkan oleh angin, terutama di daerah gurun. Korasi terjadi ketika
angin membawa pasir yang mengikis batuan, sedangkan deflasi hanya disebabkan
angin yang menggerus tanah.
d. Eksarasi (Erosi Es)
Eksarasi adalah erosi yang
disebabkan oleh pergerakan es yang mencair (gerakan lapisan es). Saat es di
puncak sudah terlalu berat maka es akan bergerak perlahan di atas permukaan
bumi, menyeret batuan dan material lainnya, mengikis permukaan di bawahnya.
3. Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses
pengendapan material batuan hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh air,
angin, atau faktor lainnya. Proses ini biasanya terjadi di daerah dataran
rendah atau cekungan. Material yang terendap bisa berupa pasir, kerikil, atau
tanah liat. Sedimentasi dibagi menjadi tiga jenis:
·
Sedimen Akuatis: pengendapan yang
disebabkan oleh tenaga air.
·
Sedimen Marine: pengendapan yang disebabkan
oleh gelombang laut.
·
Sedimen Geolis: pengendapan yang
disebabkan oleh tenaga angin.
4. Pergerakan Massa Tanah (Mass
Wasting)
Pergerakan massa tanah (mass
wasting) adalah proses di mana tanah, batu, atau material lainnya bergerak
turun dari lereng karena pengaruh gravitasi. Biasanya, mass wasting terjadi di
lereng yang curam atau di tempat yang tanahnya tidak stabil, terutama setelah
hujan deras, gempa, atau kegiatan penggalian. Contoh mass wasting yang sering
kita lihat adalah longsor.