Kamis, 05 Februari 2026

TEKTONISME

 

 TEKTONISME

Pengertian Tektonisme

Apa itu tektonisme? Tektonisme adalah pergerakan horizontal dan vertikal yang menyebabkan perubahan bentuk permukaan bumi. Gerakan pada tektonisme disebut gerakan tektonik.Di sumber lain juga mengatakan bahwa ektonisme adalah tenaga dari dalam Bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan letak (dislokasi) atau bentuk (deformasi) kulit bumi.

Gerakan tektonik bisa mempengaruhi permukaan bumi karena gerakan tersebut menimbulkan retakan, lipatan, lekukan, dan patahan.

 

Jenis Gerakan Tektonisme

Ternyata gerakan tektonik ada 2 jenis, lho! Kedua jenis gerakan tektonik itu disebut gerakan epirogenetik dan gerakan orogenetik. Yuk kita bahas satu per satu!

 

1. Gerak Epirogenetik

Gerak epirogenetik atau epirogenesa adalah gerak lapisan kerak bumi yang relatif lambat dalam waktu yang lama, serta meliputi daerah yang luas. Misalnya, tenggelamnya benua Gondwana menjadi Sesar Hindia.

Gerak epriorgenetik dibedakan menjadi 2 yaitu:

·         Gerakan epirogenesa positif

·         Epriogenetik positif yaitu gerak turunnya daratan sehingga kelihatannya permukaan air laut yang naik.

·         Misalnya, turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku Barat Daya sampai ke Pulau Banda).



Epirogenesa Positif (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

·         Gerakan epirogenesa negatif

Sedangkan gerakan epirogenesa negatif membuat daratan naik karena gerakan tersebut mengarah ke atas. Hal tersebut menyebabkan permukaan laut seolah-olah turun.. Misalnya, naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.



Epirogenesa Negatif (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

2. Gerak Orogenetik

Gerak orogenetik atau oroganesa adalah proses pembentukan pegunungan. Proses orogenetik meliputi luas areal yang relatif sempit dan dalam waktu relatif singkat.Misalnya, pembentukan pegunungan-pegunungan yang ada di bumi, seperti Pegunungan Andes, Rocky Mountain, Sirkum Mediterania, dan Pegunungan Alpen.Gerak orogenetik menyebabkan tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang menyebabkan terjadinya dislokasi atau perpindahan letak lapisan kulit bumi.Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan dan patahan.


                           


  

·         Lipatan (fold)

Lipatan adalah bentukan yang terjadi akibat adanya tekanan pada lapisan batuan yang elastis. Lipatan ini punya puncak (antiklin) yang memiliki pusat lipatan paling tua, dan lembah (sinklin) yang memiliki pusat lipatan batuan paling muda. Antiklinal dan sinklinal ini bisa terjadi karena adanya kompresi lempeng. Jika terbentuk beberapa puncak lipatan disebut antiklinorium dan beberapa lembah lipatan disebut sinklinorium.Contoh dari pegunungan lipatan adalah pegunungan tua, seperti Pegunungan Ural. Lipatan ada pegunungan ini terjadi pada zaman primer.Adapun pegunungan muda, seperti Pegunungan Mediteranian dan Sirkum Pasifik yang terjadi pada zaman tersier.

 


Lipatan (Sumber: Dok. Ruangguru)

 



Ilustrasi Antiklin dan Sinklin (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Lipatan ini ada 6 jenis, guys. Ada:

1.    Lipatan tegak

2.    Lipatan miring

3.    Lipatan menggantung

4.    Lipatan isoklinal

5.    Lipatan rebah

6.    Lipatan rebah berpindah menjadi sesar sungkup

 



Macam-Macam Lipatan (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

·         Patahan (fault)

Patahan terjadi ketika lempeng yang membentuk kerak bumi bergerak dan saling berdesakan. Gerakan tersebut memberi tegangan yang sangat besar sampai pada akhirnya meme cahkan batuan.

Tempat batuan itu pecah disebut patahan (fault), dan alur akibat pecahnya batuan itu disebut alur patahan.Alur patahan yang besar dapat sampai ke batuan di bawah tanah yang dalam dan merentang sepanjang benua.Selain gempa bumi, patahan dapat terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dan saling menjauh satu sama lain sehingga pada bongkah batuan terjadi retakan-retakan dan pada akhirnya patah membentuk bagian yang merosot (graben atau slenk) dan bagian yang menonjol (horst).Salah satu relief geologis terkenal di dunia adalah Patahan San Andreas yang membelah Pantai Pasifik di California, Amerika Serikat. Panjang patahan horizontal ini sejauh 1.200 km.

1.    Fault scrap/escarpment yaitu bagian lereng patahan.

 



Bagian Patahan (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Selain itu, ada dua bentuk blok patahan atau sesar, yaitu  footwall dan hanging wall.



Footwall dan Hangingwall (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Eits, masih ada lagi nih. Tadi kamu udah tau ya bentuk dan blok patahan. Sekarang kita bahas jenis-jenis patahan. Patahan ada 3 jenis, yaitu:

1. Sesar vertikal, yaitu bentuk patahan yang bergeser secara vertikal. Sesar ini ditunjukkan dengan naiknya hanging wall. Kalau sesar turun, ditandai dengan turunnya hanging wall terhadap foot wall.



Sesar vertikal (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

2. Sesar Mendatar/Horizontal, yaitu bentuk patahan yang bergerak secara horizontal. Sesar mendatar ada 2 jenis, dekstral dan sinistral.



Dekstral dan Sinistral (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

3. Sesar Vertikal Horizontal atau Sesar Oblique, yaitu patahan yang pergerakannya tidak hanya vertikal, tapi juga dikombinasikan dengan gerakan horizontal.



Oblique (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Bentuk Lempeng Tektonik

Guys, gerakan lempeng juga membentuk bagian yang disebut batas lempeng. Batas lempeng atau bentuk gerakan lempeng tersebut dibagi menjadi 3, yaitu batas Lempeng Divergen, batas Lempeng Konvergen, dan batas Lempeng Sesar.

 

1. Batas Lempeng Divergen

Batas lempeng divergen terbentuk akibat pergerakan lempeng kulit bumi yang saling berlawanan atau saling menjauh. Hal tersebut menyebabkan magma naik ke permukaan dan mendesak permukaan bumi, sehingga menyebabkan terbentuknya lapisan permukaan bumi yang baru.


 


 


Ilustrasi Divergen (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

2. Batas Lempeng Konvergen

Batas lempeng konvergen terjadi akibat pergerakan lempeng kulit bumi yang saling bertumbukan. Oleh karena itu, salah satu lempeng akan tertekuk dan masuk ke bawah bagian lempeng lainnya. Gerakan ini dapat menimbulkan getaran yang kuat.

Contoh bencana alam akibat pergerakan lempeng konvergen adalah gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 lalu.



Ilustrasi Konvergen (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Batas lempeng konvergen ini ada 3 jenis:

 

·         Subduksi

Subduksi adalah penunjaman, di mana salah satu lempeng menunjam ke bawah membentuk slab. Biasanya, subduksi terbentuk saat pertemuan lempeng benua di atas lempeng samudra atau penunjaman lempeng samudra dengan lempeng samudra.

Nah, zona subduksi lempeng benya dan samudra ini menghasilkan jalur gunung api aktif. Sementara, subduksi lempeng samudra dengan lempeng samudra akan membentuk busur kepulauan (island arches) dan palung laut.

 

·         Kolisi

Kolisi adalah tumbukan antara lempeng benua dan lempeng benua. Misalnya seperti Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Ural.

 

·         Obduksi

Obduksi merupakan penunjaman antara lempeng benua dengan lempeng samudera, dengan lempeng benua menunjam di bawah lempeng samudra.

 

3. Batas Lempeng Sesar atau Transform

Batas lempeng sesar atau transform adalah batas lempeng yang menyebabkan terjadinya gerakan lempeng kulit bumi yang sejajar. Hal ini terjadi apabila lempengan bumi bergesek dalam posisi yang sama datar, sejajar, dan selalu bergerak.



Ilustrasi Lempeng Sesar/Transform (Sumber: Dok. Ruangguru)

 

Dampak Tektonisme bagi Lingkungan



Tektonisme dapat menimbulkan dampak bagi lingkungan dan kehidupan manusia, baik positif maupun negatif. Berikut adalah beberapa dampak tektonisme bagi lingkungan:

Dampak Positif

·         Tektonisme dapat membentuk berbagai bentang alam yang indah dan menarik, seperti pegunungan, lembah, danau, pulau, dan lain-lain. Bentang alam ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pariwisata, pertanian, perikanan, dan lain-lain.

·         Tektonisme dapat menyediakan sumber daya alam yang bermanfaat, seperti mineral, batubara, minyak bumi, gas alam, dan lain-lain. Sumber daya alam ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri, energi, dan lain-lain.

·         Tektonisme dapat mempengaruhi iklim dan cuaca di suatu daerah. Misalnya, pegunungan yang terbentuk akibat tektonisme dapat menghalangi angin laut sehingga menyebabkan hujan di sebelah barat pegunungan (daerah hulu) dan kering di sebelah timur pegunungan (daerah hilir).

Dampak Negatif

·         Tektonisme dapat menyebabkan bencana alam yang merugikan, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, dan lain-lain. Bencana alam ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, kerugian materiil, korban jiwa, dan trauma psikologis bagi manusia.

·         Tektonisme dapat menyebabkan perubahan ekosistem yang tidak sesuai dengan kondisi aslinya. Misalnya, tenggelamnya pulau-pulau akibat epirogenesa positif dapat mengancam keberadaan flora dan fauna yang hidup di pulau tersebut. Munculnya pulau-pulau baru akibat epirogenesa negatif juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut di sekitarnya.

·         Tektonisme dapat menyebabkan konflik sosial antara manusia yang tinggal di daerah yang terkena dampak tektonisme. Misalnya, pengungsi dari daerah yang terkena bencana alam akibat tektonisme dapat menimbulkan masalah sosial di daerah tujuan pengungsian. Konflik juga dapat terjadi antara negara-negara yang memiliki klaim atas wilayah yang terbentuk akibat tektonisme.

 

Sumber :

https://an-nur.ac.id/blog

https://www.ruangguru.com/blog

https://tambahpinter.com/

https://cerdika.com/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TEKTONISME

    TEKTONISME Pengertian Tektonisme Apa itu tektonisme?  Tektonisme adalah pergerakan horizontal dan vertikal yang menyebabkan perubahan be...